Berita Terkini Badan Geologi, Geological Agency of Indonesia, Badan Geologi, Geological Agency, Kementerian ESDM, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ministry of Energy and Mineral Resources of Republic of Indonesia http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini Wed, 21 Nov 2018 14:40:47 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management en-gb Laporan Kebencanaan Geologi 21 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1530-laporan-kebencanaan-geologi-21-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1530-laporan-kebencanaan-geologi-21-november-2018-0600-wib I. SUMMARY  
Hari ini, Rabu 21 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
 
1. Gunungapi
 
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
 
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratdaya.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
 
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
 
Gunungapi Agung (Bali):
 
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Barat.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
 
Tanggal 21 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
 
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
 
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
 
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timurlaut.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 13 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Harmonik
 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
 
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
 
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Seatan.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 16 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
 
Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
 
VONA:
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
 
Gunungapi Krakatau (Lampung):
 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan dan Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 4 – 58 mm (dominan 58 mm)
 
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
 
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur laut dan Barat daya.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 55 kali gempa Guguran
- 12 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Hybrid
 
Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
 
Gunungapi Dukono (Halmahera):
 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup sedang ke arah Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 15 mm (dominan 2 mm)
 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
 
Gunungapi Ibu (Halmahera):
 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 –600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 92 kali gempa Letusan
- 83 kali gempa Hembusan
- 33 kali gempa Guguran
- 29 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
 
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
 
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara
2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  dua rumah rusak parah di Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara; satu rumah rusak parah di  Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
II. DETAIL
 
1. Gunungapi
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.
c. Sebanyak 18 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.
 
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
 
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratdaya.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
 
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
 
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
 
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.
 
Gunungapi Agung (Bali)
 
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
 
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Barat.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
 
Tanggal 21 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.
 
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
 
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timurlaut.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 13 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Harmonik
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.
 
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
 
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.
Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.
Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).
Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).
Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.
Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.
Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.
Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.
Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Seatan.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 16 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.
 
Gunungapi Krakatau (Lampung)
 
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
 
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
 
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
 
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
 
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan dan Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 4 – 58 mm (dominan 58 mm)
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
 
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur laut dan Barat daya.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 55 kali gempa Guguran
- 12 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Hybrid
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
 
Gunungapi Dukono (Halmahera)
 
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup sedang ke arah Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 15 mm (dominan 2 mm)
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
 
Gunungapi Ibu (Halmahera)
 
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
 
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 –600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
 
Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:
- 92 kali gempa Letusan
- 83 kali gempa Hembusan
- 33 kali gempa Guguran
- 29 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
 
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.
 
VONA terakhir yang terkirim:
 
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
 
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
 
(2) G. Agung, Bali
 
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
 
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
 
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
 
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
 
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
 
(5) G. Krakatau, Lampung
 
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
 
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
 
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
 
(7) G. Dukono, Maluku Utara
 
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
 
(8) G. Ibu, Maluku Utara
 
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
 
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara*, 2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau*, 3.Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, 4. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Barat, 6. Kabupaten  Bener Meriah, Provinsi Aceh, 7.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, 8.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, 9.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 10.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 11.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. 12.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 13.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 14. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.
*Kejadian gerakan tanah terbaru: 
1. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
Dua rumah yang berada di Jalan Gunung Amal, RT 15 Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur mengalami kerusakan cukup parah setelah tertimpa longsor. Kejadian tersebut terjadi setelah Kota Tarakan diguyur hujan yang cukup lebat pada Minggu dini hari kemarin (18/11), sekitar pukul 03.40 WITA. Muhajir (40), salah satu korban saat ditemui Radar Tarakan mengatakan kejadian longsornya tanah di dekat rumahnya tersebut setelah hujan.
 Sumber : http://kaltara.prokal.co/read/news/24219-pedagang-sayur-ini-nyaris-tertimbun-longsor.html
Gerakan tanah terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah larut apabila terkena air dan dipicu oleh curah hujan tinggi.
2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.
Hujan deras yang melanda Kuantan Singingi (Kuansing), Riau pada Senin (19/11/2018) malam jadi pemicu longsor di Desa Tebingtinggi Benai. Akibatnya, satu rumah mengalami rusak parah. Longsor sudah terjadi pada pukul 19.30 Wib. Diketahui, rumah tersebut milik Kiswanto dan saat itu sedang berada di rumah. Rumahnya rusak, terparah bagian belakang. Kebetulan, di belakang ada bukit dan itu yang longsor.
Sumber  : https://www.gonews.co/berita/baca/2018/11/20/longsor-satu-rumah-di-benai-kuansing-roboh?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi :
Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan dan segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat
Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
21 November 2018
Kasbani



Berita Terkini

I. SUMMARY

 

Hari ini, Rabu 21 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

 

1. Gunungapi

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):

 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratdaya.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

 

Rekomendasi:

- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.

- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

 

Gunungapi Agung (Bali):

 

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Barat.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 6 kali gempa Tektonik Jauh

 

Tanggal 21 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.

- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.

- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

 

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):

 

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timurlaut.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 3 kali gempa Hembusan

- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

- 2 kali gempa Vulkanik Dalam

- 2 kali gempa Tektonik Lokal

- 13 kali gempa Tektonik Jauh

- 1 kali gempa Harmonik

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):

 

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Seatan.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 16 kali gempa Guguran

- 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

 

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan dan Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 4 – 58 mm (dominan 58 mm)

 

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur laut dan Barat daya.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 55 kali gempa Guguran

- 12 kali gempa Hembusan

- 3 kali gempa Low Frequency

- 4 kali gempa Hybrid

 

Rekomendasi:

- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.

- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.

- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.

- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup sedang ke arah Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Letusan

- 1 kali gempa Tektonik Lokal

- 1 kali gempa Tektonik Jauh

- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 15 mm (dominan 2 mm)

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 –600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 92 kali gempa Letusan

- 83 kali gempa Hembusan

- 33 kali gempa Guguran

- 29 kali gempa Tremor Harmonik

- 1 kali gempa Tektonik Jauh

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.

 

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

 

2. Gerakan Tanah

 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.

 

Gerakan tanah terakhir terjadi :

 

1.Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara

2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau

 

Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

 

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  dua rumah rusak parah di Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara; satu rumah rusak parah di  Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

 

II. DETAIL

 

1. Gunungapi

 

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.

c. Sebanyak 18 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

 

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratdaya.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

 

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.

 

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

 

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali)

 

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.

 

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

 

Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Barat.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 6 kali gempa Tektonik Jauh

 

Tanggal 21 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

 

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.

Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timurlaut.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 3 kali gempa Hembusan

- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

- 2 kali gempa Vulkanik Dalam

- 2 kali gempa Tektonik Lokal

- 13 kali gempa Tektonik Jauh

- 1 kali gempa Harmonik

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

 

Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.

Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.

Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).

Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).

Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.

Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.

Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.

Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.

Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.

Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Seatan.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 16 kali gempa Guguran

- 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung)

 

Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

 

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

 

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

 

Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

 

Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan dan Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 4 – 58 mm (dominan 58 mm)

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

 

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur laut dan Barat daya.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 55 kali gempa Guguran

- 12 kali gempa Hembusan

- 3 kali gempa Low Frequency

- 4 kali gempa Hybrid

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)

 

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup sedang ke arah Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Letusan

- 1 kali gempa Tektonik Lokal

- 1 kali gempa Tektonik Jauh

- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 15 mm (dominan 2 mm)

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)

 

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

 

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 –600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.

 

Melalui rekaman seismograf tanggal 20 November 2018 tercatat:

- 92 kali gempa Letusan

- 83 kali gempa Hembusan

- 33 kali gempa Guguran

- 29 kali gempa Tremor Harmonik

- 1 kali gempa Tektonik Jauh

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

 

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll.

 

VONA terakhir yang terkirim:

 

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

 

(2) G. Agung, Bali

 

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

 

(3) G. Gamalama, Maluku Utara

 

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

 

(4) G. Soputan, Sulawesi Utara

 

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

 

(5) G. Krakatau, Lampung

 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

 

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

 

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

(7) G. Dukono, Maluku Utara

 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

 

(8) G. Ibu, Maluku Utara

 

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.

 

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

 

2. Gerakan Tanah 

 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 

 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

 

1.Kota Tarakan, Provinsi  Kalimantan Utara*, 2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau*, 3.Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, 4. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Barat, 6. Kabupaten  Bener Meriah, Provinsi Aceh, 7.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, 8.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, 9.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 10.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 11.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. 12.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 13.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 14. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

 

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

 

1. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara

 

Dua rumah yang berada di Jalan Gunung Amal, RT 15 Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur mengalami kerusakan cukup parah setelah tertimpa longsor. Kejadian tersebut terjadi setelah Kota Tarakan diguyur hujan yang cukup lebat pada Minggu dini hari kemarin (18/11), sekitar pukul 03.40 WITA. Muhajir (40), salah satu korban saat ditemui Radar Tarakan mengatakan kejadian longsornya tanah di dekat rumahnya tersebut setelah hujan.

 

 Sumber : http://kaltara.prokal.co/read/news/24219-pedagang-sayur-ini-nyaris-tertimbun-longsor.html

 

Gerakan tanah terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah larut apabila terkena air dan dipicu oleh curah hujan tinggi.

 

2. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

 

Hujan deras yang melanda Kuantan Singingi (Kuansing), Riau pada Senin (19/11/2018) malam jadi pemicu longsor di Desa Tebingtinggi Benai. Akibatnya, satu rumah mengalami rusak parah. Longsor sudah terjadi pada pukul 19.30 Wib. Diketahui, rumah tersebut milik Kiswanto dan saat itu sedang berada di rumah. Rumahnya rusak, terparah bagian belakang. Kebetulan, di belakang ada bukit dan itu yang longsor.

 

Sumber  : https://www.gonews.co/berita/baca/2018/11/20/longsor-satu-rumah-di-benai-kuansing-roboh?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

 

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

 

Rekomendasi :

Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.

Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan dan segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat

Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.

Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.

Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.

Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

 

 

 

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 21 November 2018

 

 

 

Kasbani

]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Wed, 21 Nov 2018 02:19:42 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 20 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1529-laporan-kebencanaan-geologi-20-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1529-laporan-kebencanaan-geologi-20-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Selasa 20 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali gempa Tornillo
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir/Lahar Hujan
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 10 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 20 – 58 mm (dominan 58 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 34 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Letusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 102 kali gempa Letusan- 197 kali gempa Hembusan- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta
Penyebab:Penyebab terjadinya longsor diperkirakan akibat darii kemiringan lereng yang terjal karena pengerukan, longsornya turap, material bantaran sungai berupa sedimentasi bercampur sampah, sehingga tidak stabil. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan 3 rumah roboh di Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL

1. Gunungapi


Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali gempa Tornillo
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir/Lahar Hujan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 10 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 20 – 58 mm (dominan 58 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi sekitar 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 34 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Letusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 November 2018 tercatat:- 102 kali gempa Letusan- 197 kali gempa Hembusan- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 1.Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta*, 2. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, 3. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Barat, 4. Kabupaten  Bener Meriah, Provinsi Aceh, 5.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, 6.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, 7.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 8.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 9.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. 10.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,. 11.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 12. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 13. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1.Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta
Tiga rumah warga di RT 01 RW 08 Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, ambruk, Minggu (18/11/2018). Penyebab ambruknya ketiga rumah itu akibat turap anak Sungai Ciliwung ambles.  Longsornya turap Kali Anak Ciliwung di Jalan Kerapu RT 01/RW 08 Ancol, Pademangan, Jakarta Utara bukan untuk yang pertama kalinya. Peristiwa serupa pernah beberapa kali terjadi dalam waktu yang berdekatan.Pengerukan sudah berlangsung sejak bulan Oktober silam. Selama pengerukan tersebut, sudah ada empat kali longsor dan yang terparah yang terjadi mulai Sabtu (17/11) lalu. Akibat longsor itu, ada tujuh rumah yang  rusak dan ditempati delapan KK atau 32 jiwa. Rumahnya yang berada di pinggir kali, semi permanen.
Sumber : https://www.google.co.id/amp/wartakota.tribunnews.com/amp/2018/11/19/longsor-di-ancol-sudah-4-kali-terjadi
Penyebab terjadinya longsor diperkirakan akibat darii kemiringan lereng yang terjal karena pengerukan, longsornya turap, material bantaran sungai berupa sedimentasi bercampur sampah, sehingga tidak stabil. 
Rekomendasi :
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Menata aliran permukaan pada  pada bantaran sungai dengan saluran kedap air ataupun membangun gorong-gorong dan segera membangun turap, agar lereng tebing sungai menjadi stabil.
• Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana di sekitar bantaran sungai lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/reruntuhan batu;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
20 November 2018


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Tue, 20 Nov 2018 02:15:21 +0000
Upayakan Peningkatan Cadangan Migas Indonesia, Pusat Survei Geologi Tandatangani Perjanjian Kerjasama Dengan P T. Pertamina http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1528-upayakan-peningkatan-cadangan-migas-indonesia-pusat-survei-geologi-tandatangani-perjanjian-kerjasama-dengan-p-t-pertamina http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1528-upayakan-peningkatan-cadangan-migas-indonesia-pusat-survei-geologi-tandatangani-perjanjian-kerjasama-dengan-p-t-pertamina Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) pada Jumat (16/11/2018) di Kantor Pusat Pertamina Jakarta.

 gb1

Dalam pelaksanaan penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut PSG Badan Geologi diwakili oleh Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono sedangkan PT. Pertamina diwakili oleh SVP Upstream Business Development (UBD) Ida Yusmiati dan VP Upstream Research & Technology (R&T) Sigit Raharjo.

 gb2

Ruang lingkup perjanjian kerjasama pertama yang dilakukan antara PSG Badan Geologi dan Upstream Business Development (UBD) PT. Pertamina (Persero) meliputi penelitian, penyelidikan, pengkajian dan pemanfaatan sumber daya manusia serta fasilitas yang dimiliki terkait eksplorasi di bidang sumber daya minyak dan gas bumi, baik konvensional maupun non konvensional pada wilayah terbuka Indonesia di luar wilayah aktif PT. Pertamina. Ruang lingkup perjanjian kerjasama kedua yang dilakukan antara PSG Badan Geologi dan Upstream Research & Technology (R&T) PT. Pertamina (Persero) meliputi penelitian, penyelidikan dan kajian geologi, geofisika dan geokimia untuk area di Indonesia antaralain Jawa Timur Selatan, wilayah Banyumas dan Pulau Buton.

 gb3

Bagi kedua belah pihak kerja sama ini sangat mendukung kegiatan new ventures khususnya untuk PT. Pertamina Upstream Business Development (UBD) diharapkan dapat memberikan penambahan aset eksplorasi untuk meningkatkan cadangan 2C yang diperlukan dalam mempertahankan rasio reserves to production (R/P) dalam rangka meningkatkan ketahanan migas nasional. Sedangkan bagi PSG Badan Geologi penambahan data baru akan semakin melengkapi pengetahuan terhadap potensi sumber daya dan meningkatkan ekplorasi cekungan sedimen sehingga cadangan migas semakin bisa ditingkatkan.

 

Penyusun :    Nungky Dwi Hapsari

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Mon, 19 Nov 2018 08:12:29 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 19 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1527-laporan-kebencanaan-geologi-19-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1527-laporan-kebencanaan-geologi-19-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Senin 19 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 19 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 13 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 20 – 58 mm (dominan 56 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 43 kali gempa Guguran- 8 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 105 kali gempa Letusan- 91 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Guguran- 32 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh 2. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Barat3. Kabupaten  Bener Meriah, Provinsi Aceh
Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh  dan  hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  akses lslu lintas terhambat  di Kabupaten Aceh Tengah(, Provinsi Aceh), di Kabupaten Sungai Penuh Tapa  ( Provinsi Sumatera Selatan) dan  di Kabupaten  Bener Meriah,(Provinsi Aceh).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 19 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 13 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 20 – 58 mm (dominan 56 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 43 kali gempa Guguran- 8 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 November 2018 tercatat:- 105 kali gempa Letusan- 91 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Guguran- 32 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh*, 2. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Barat*, 3. Kabupaten  Bener Meriah, Provinsi Aceh*, 4.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, 5.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, 6.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, 7.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 8.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. 9.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,. 10.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 11. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 12. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 13.  Kabupaten Nagakeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 14. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten   Aceh Tengah, Provinsi Aceh 
Tanah longsor menimbun ruas jalan Takengon-Jagong Jeget pada hari jum’at Sore (16/11/2018), Longsor juga terjadi di dekat kawasan hotel Renggali, Takengon tepatnya di jalur menuju Danau Lut Tawar. Bongkahan batu dari tebing bukit terjatuh ke badan jalan karna digerus air, tanah longsor juga menutup akses antar Kecamatan di Kampung Kekuyang, Kecamatan Ketol.
Sumber:  http://aceh.tribunnews.com/2018/11/18/aceh-tengah-diterjang-banjir-bandang-dan-longsor
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, sehingga lereng menjadi tidak stabil. Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Sungai Penuh Tapan, Provinsi Sumatera Selatan
Longsor di Km.35 Jalur Sungai Penuh – Tapan Kab. Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Selatan pada hari Minggu sore ( 17/11/2018). Ratusan kendaraan dijalan Nasional km.35 pun terjebak. Setelah berhasil  dibersihkan beberapa hari yang lalu, longsor kembali terjadi di jalan sungai tapan Sumatera Barat. Ratusan kendaraan dijalan Nasional km.35 pun terjebak.Longsoran membuat tanah berlumpur setinggi 1 meter di badan jalan sulit dilalui. 
Sumber: http://jambi.tribunnews.com/2018/11/18/longsor-di-jalan-sungai-penuh-tapan-pengendara-nekat-terobos-lumpur-setinggi-1-meter
Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh  dan  hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.

3.  Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh
Longsor terjadi di kampung Meriah  Jaya, Kec. Gajahputih Kab. Benermeriah Prov. Aceh, terjadi dijalan yang menghubungkan Dusun Pantan bayur menuju Dusun uning Bero pada hari Sabtu (17/11/2018. Longsor jalan tertimbun tanah sehingga tidak dapat dilintasi, diperkirakan bencana longsor tersebut terjadi akibat hujan deras. Badan jalan yang longsor terjadi Empat titik dijalan lintasan menuju kedua dusun tersebut, yakni tebing jalan longsor bermaterial kayu seluas kurang lebih 15 meter, badan jalan longsor seluas kurang lebih 10 meter, tebing jalan longsor bermaterial pohon kopi dan coklat seluas kurang lebih 15 meter serta longsor kebun milik warga yakni Sugimin seluas kurang lebih 30x40 meter.
Sumber: http://www.kabargayo.com/hujan-deras-longsor-di-meriah-jaya-bener-meriah-akses-jalan-terputus/
Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh   hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/reruntuhan batu;
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.


PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
19 November 2018



Kasbani


Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Mon, 19 Nov 2018 02:57:48 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 18 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1526-laporan-kebencanaan-geologi-18-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1526-laporan-kebencanaan-geologi-18-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Minggu 18 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 18 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 14 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 13 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 202 kali gempa Letusan- 11 kali gempa Hembusan- 8 kali gempa Vulkanik Dangkal- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 56 mm (dominan 56 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 29 kali gempa Guguran- 11 kali gempa Hembusan- 8 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 200 – 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 103 kali gempa Letusan- 240 kali gempa Hembusan- 21 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat2.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh3.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara4.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh gempabumi Mamasa dan  hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  delapan rumah warga tertimbun longsor di  Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat; lalu lintas terputus di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh; lalu lintas terhambat di   Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara; akses jalan sempat tertutup di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Baratlaut Mandailing Natal, Sumatera Utara 
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari sabtu, 17 November 2018, pukul 17:41:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  0,91°LU dan 98,61°BT (86 km di sebelah baratlaut Mandailing Natal), dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 66 km. USGS melaporkan pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,875°LU dan 98,616°BT, pada kedalaman 76,1 km dengan magnitudo 4,7.
Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di perairan di sebalah barat laut Mandailing Natal. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi pada umumnya disusun oleh batuan gunungapi berumur kuarter, batuan sedimen dan batuan gunungapi berumur tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan. 
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.
Dampak gempa bumi:Belum ada informasi kerusakan. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.
Rekomendasi:(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim di di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 18 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 14 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 13 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Timurlaut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2018 tercatat:- 202 kali gempa Letusan- 11 kali gempa Hembusan- 8 kali gempa Vulkanik Dangkal- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 56 mm (dominan 56 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 29 kali gempa Guguran- 11 kali gempa Hembusan- 8 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 200 – 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 17 November 2018 tercatat:- 103 kali gempa Letusan- 240 kali gempa Hembusan- 21 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat*, 2.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh*, 3.Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara*, 4.Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali*, 5.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. 6.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,. 7.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 8. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 9. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 10.  Kabupaten Nagakeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 11. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 12. Kabupaten  Agam, Provinsi Sumatera Barat, 13. Kota Depok,  Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Mamasa,  Provinsi Sulawesi Barat
Delapan rumah warga di Dusun Sareppe dan Lalangpeu, Desa Aralle Timur, Kecamatan Buntu Malangka, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, hancur tertimbun longsor ribuan kubik saat diguncang gempa 5,5, Kamis lalu (15/11/2018). Puluhan kepala keluarga yang selamat dari bencana longsor kini diungsikan ke rumah-rumah penduduk yang aman. Akes jalan dan sarana komunikasi yang tidak memadai membuat laporan bencana alam ini baru sampai ke kabuten beberapa hari kemudian. Bencana longsor di Dusun Sareppe dan Lalangpeu, Desa Aralle Timur, ini terjadi sekitar pukul 2.30 Wita, beberapa saat setelah gempa guncang Mamasa. Sebanyak 8 rumah warga hancur tertimbun longsor. Selain itu, dua rumah warga lainnya dan sebuah rumah ibadah juga mengalami rusak berat. Material longsor yang terdiri dari bebatuan dan batang pohon besar menyulitkan proses evakuasi secara manual.
Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/11/17/15550801/8-rumah-warga-mamasa-tertimbun-longsor-akibat-gempa?utm_campaign=Dlvrit&utm_source=Twitter&utm_medium=Social
Penyebab longsor : Gempa bumi 5.5 SR yang terjadi di Kab. Mamasa, Sulawesi Barat.

2. Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh
Bencana banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh sejak Jumat (16/11/2018). Banjir disebabkan karena wilayah ini diguyur hujan dengan intensitas tinggi sejak kemarin. banjir merendam ribuan rumah warga di sejumlah kecamatan. Tidak hanya itu, banjir juga menyebabkan jalan lintas yang menghubungkan antara Kabupaten Pidie dan Aceh Barat putus total. lokasi banjir terparah berada di Kecamatan Tangse. Badan jalan putus total dan satu rumah warga longsor. 
Sumber : https://www.infiltrasi.com/2018/11/diterjang-banjir-dan-longsor-akses.html
Penyebab longsor : Intensitas hujan yang sangat tinggi.

3. Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara
Bencana tanah longsor kembali menerjang kawasan Sembahe, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (16/11). Akibatnya, jalan lintas Medan-Berastagi lumpuh sekira 4 jam. Informasi yang berhasil dihimpun, longsor yang menutupi jalan itu terjadi di Jalan Jamin Ginting Km 36-37 . BPBD Deliserdang langsung melakukan pembersihan material longsor, karena menutupi ruas jalan Medan-Berastagi. Sedangkan untuk mengurangi kemacetan yang terjadi sejak pukul 13.44 WIB, personel Lantas Polrestabes Medan langsung diturunkan ke lokasi.
Sumber : http://web.bacaberita.info/Longsor-di-Sibolangit-Jalur-Medan-Berastagi-Lumpuh-4-Jam-td23130.html
Penyebab longsor : Intensitas hujan tinggi

4. Kabupaten Gianyar, Provinsi  Bali
Tanah longsor terjadi di wilayah Desa Adat Manuaba, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Tanah longsor berikut rumpun bambu itu sempat menutup akses Jalan Raya Kendran. Bencana itu diduga dipicu hujan lebat yang turun Kamis (15/11) malam. kejadian tersebut diawali dengan hujan lebat yang mengguyur kawasan tersebut. 
Sumber : https://baliexpress.jawapos.com/read/2018/11/17/104035/tanah-longsor-tutup-jalan-raya-kendran-bpbd-sempat-hentikan-evakuasi#.W--eWkX51K0.twitter
Penyebab Longsor : Intensitas Hujan yang tinggi
Rekomendasi: :
• Masyarakat yang berada di sekitar daerah bencana agar mengungsi ke tempat yang lebih datar/aman terlebih dahulu.
• Masyarakat agar menghindari daerah berlereng curam/terjal mengingat gempa susulan masih sering terjadi yang dapat memicu terjadinya longsor lanjutan.
• Pembersihan material longsor segera dilakukan khususnya untuk akses jalan dan agar pembersihan dilakukan dengan memperhatikan gempa gempa susulan dan curah hujan.
• Material longsoran yang menutup jalan segera dibersihkan.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.


PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
18 November 2018


Kasbani


Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Sun, 18 Nov 2018 02:53:20 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 17 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1525-laporan-kebencanaan-geologi-17-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1525-laporan-kebencanaan-geologi-17-november-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 17 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan BaratDaya.
Rekaman seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 4 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 17 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dengan tinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 17 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 50 m di atas puncak. Letusan teramati berwarna hitam setinggi 200 - 600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan TimurLaut. 
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 236 kali gempa Letusan- 59 kali gempa Hembusan- 43 kali gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Harmonik- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 14 mm (dominan 5 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 30 kali gempa Guguran- 11 kali gempa Hembusan- 9 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 8 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 14 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 105 kali gempa Letusan- 100 kali gempa Hembusan- 35 kali gempa Guguran- 24 kali gempa Tremor Harmonik- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.
Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  jalan tertutup longsor  di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara; retakan di bukit di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim di di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan BaratDaya.
Rekaman seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 4 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 17 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan TimurLaut.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dengan tinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 17 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 50 m di atas puncak. Letusan teramati berwarna hitam setinggi 200 - 600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan TimurLaut. 
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2018 tercatat:- 236 kali gempa Letusan- 59 kali gempa Hembusan- 43 kali gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Harmonik- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 14 mm (dominan 5 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara dan Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 30 kali gempa Guguran- 11 kali gempa Hembusan- 9 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 8 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 14 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 16 November 2018 tercatat:- 105 kali gempa Letusan- 100 kali gempa Hembusan- 35 kali gempa Guguran- 24 kali gempa Tremor Harmonik- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak..(5) G. Krakatau, Lampung.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 November 2018 pukul 07:59 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara*. 2.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*,. 3.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 4. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 5. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 6.  Kabupaten Nagakeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 7. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 8. Kabupaten  Agam, Provinsi Sumatera Barat, 9. Kota Depok,  Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 11. Kabupaten  Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, 12. Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.
Gerakan tanah terjadi di Jalan Tikungan Tirtanadi, Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Terjadi pada hari Jumat, 16 November 2018. Gerakan tanah ini mengakibatkan badan jalan tertimbun material longsoran.
Sumber  : http://news.analisadaily.com/read/longsor-di-sembahe-jalur-medan-berastagi-macet/650037/2018/11/16
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, sehingga lereng menjadi tidak stabil. Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.Bukit Karangsuko RT 4 Dusun Sukorejo, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek,  Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Terjadi pada hari Jumat, 16 November 2018. Gerakan tanah ini mengakibatkan retakan sepanjang 100 meter di petak 114 bukit. 
Sumber  : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4305197/minimalisir-longsor-di-trenggalek-warga-tutup-retakan-tanah
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan karena kemiringan lereng yang terjal, sehingga lereng menjadi tidak stabil, dan curah hujan yang tinggi. Jenis Gerakan Tanah diperkirakan berupa rayapan.
Rekomendasi :
• Agar Masyarakat yang beraktifitas disekitar wilayah bencana lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
• Material longsoran segera dibersihkan.
• Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air serta membangun gorong gorong.
• Jika diperlukan diberlakukan sistem buka tutup pada saat atau setelah turun hujan untuk menghindari/mengurangi risiko bencana;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Tidak melakukan penggundulan hutan;
• Segera menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan, agar air tidak terus merepa kedalam tanah.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.


PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
17 November 2018


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Sat, 17 Nov 2018 02:49:01 +0000
Berburu Lapangan Migas Baru di Indonesia http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1523-berburu-lapangan-migas-baru-di-indonesia http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1523-berburu-lapangan-migas-baru-di-indonesia Amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 3 menyebutkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tugas kita memenuhi amanat mandat UUD 1945, caranya dengan menemukan cekungan migas dan mengeksplorasi demi kepentingan anak cucu kita, demikian diungkapkan Amien Sunaryadi, Kepala SKK Migas dalam Seminar Migas di Jakarta (15/10/2018).

 gbr1

Achandra Tahar, Wakil Menteri ESDM menegaskan bahwa di zaman milenial ini, memasuki era disrupsi, apabila kita tidak melakukan perubahan maka kita akan punah. Demikian pula halnya dengan penemuan dan eksplorasi di dunia migas. Tidak ada pilihan selain harus memperbaiki diri dan mengikuti perubahan zaman. “Bagaimana cara penyajian data, jangan mengikuti kebijakan konvensional tetapi harus mampu melakukan perubahan,” urai Achandra.

 gbr2

Seminar Migas dengan tema “Berburu Lapangan Migas Baru di Indonesia” diselenggarakan Pusat Survei Geologi Badan Geologi KESDM dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi geologi dan hasil kerja yang telah dicapai khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk ditemukan lapangan minyak dan gas yang baru.

gbr3 

Potensi hidrokarbon di wilayah tersebut dapat dimaksimalkan dengan adanya data-data yang menunjang serta adanya forum diskusi yang melibatkan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S), para ahli di bidang geologi, serta pihak-pihak yang bersangkutan dengan industri hulu minyak dan gas bumi sehingga dapat mempercepat proses penemuan sumberdaya minyak dan gas bumi yang baru di Indonesia.

Seminar ini dihadiri oleh 200 orang yang terdiri dari internal Kementerian ESDM, Kementrian/Lembaga lain yang terkait dengan bidang minyak dan gas bumi, Dinas ESDM Provinsi, Asosiasi Profesi, Civitas Akademika, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Migas, dan BUMN yang bergerak di bidang migas

Produksi minyak bumi Indonesia yang semakin menurun hanya sekitar 774 ribu BOPD (sumber data SKK Migas, 30 September 2018), sementara konsumsi minyak bumi sekitar 1,6 juta BOPD. Hal ini menunjukkan lebih dari 50% kebutuhan minyak dalam negeri terpenuhi melalui impor. Kedepannya, jika tidak ada penemuan lapangan minyak baru, maka gap antara konsumsi dan produksi akan semakin besar. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap harga jual bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, terlebih lagi jika harga minyak dunia mengalami kenaikan.

 gbr4

 

Sebenarnya masih banyak lokasi yang dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan lapangan migas baru. Dari 128 cekungan yang dipublikasikan oleh Badan Geologi (2009), hanya terdapat 18 cekungan yang berproduksi dan masih ada 110 cekungan yang dapat dilakukan penelitian lebih lanjut. 110 cekungan ini, terdiri dari 12 cekungan yang telah dibor dengan adanya indikasi migas, 24 cekungan yang telah dibor dengan tidak ditemukannya indikasi migas, dan 74 cekungan yang belum dibor. Peta cekungan ini menunjukkan, lokasi yang berpotensi untuk menemukan lapangan migas baru pada umumnya terletak di Kawasan Timur Indonesia.

 

Kontinen Sunda yang terletak di Kawasan Barat Indonesia memiliki cadangan migas terbukti yang besar, hal ini berbanding lurus dengan banyaknya sumur pemboran. Berbeda dengan Sulawesi dan Papua (Kontinen Australia), dengan jumlah sumur pemboran yang lebih sedikit, mampu menghasilkan cangangan migas yang besar seperti pada Lapangan Tangguh dan Abadi. Penemuan ini menunjukkan harapan bahwa Kawasan Timur Indonesia perlu dilakukan penelitian lebih detail. Sebagai gambaran negara tetangga, Australia dan Papua New Guinea telah menemukan cadangan migas terbukti yang besar pada lokasi yang berbatasan langsung dengan Indonesia.

 gbr5

Untuk meningkatkan cadangan migas, Pusat Survei Geologi Badan Geologi KESDM telah melakukan studi dan survei geologi dan geofisika pada tahun 2010 – 2018. Survei yang dilakukan ini pada umumnya terletak di Kawasan Timur Indonesia. Data-data dasar yang dihasilkan dari survei tersebut menjadi insentif fiskal bagi para pelaku industri hulu migas di Indonesia. Ketersediaan data geologi dan geofisika (G&G) yang lengkap akan menarik minat para investor migas untuk mengelola wilayah kerja (WK) migas tersebut.

Survei yang dilakukan pada 2010 – 2018 telah menghasilkan 36 rekomendasi wilayah kerja migas yang berada di area terbuka, yang terdiri dari 33 rekomendasi wilayah kerja migas konvensional dan 3 rekomendasi wilayah kerja migas nonkonvensional.

 Penyusun : Tim Humas Badan Geologi

 

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Fri, 16 Nov 2018 07:40:15 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 16 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1524-laporan-kebencanaan-geologi-16-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1524-laporan-kebencanaan-geologi-16-november-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 16 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan, Barat dan Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Terasa- 6 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 16 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 15 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dengan tinggi sekitar 100 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 15 kali gempa Guguran- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 50 m di atas puncak. Letusan teramati berwarna hitam setinggi 200 - 600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 221 kali gempa Letusan- 28 kali gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali gempa Vulkanik Dalam- 79 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Harmonik- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 3 - 23 mm (dominan 6 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 November 2018 pukul 06:19 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 838 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 23 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frequency- 19 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 400 – 1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 20 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 95 kali gempa Letusan- 210 kali gempa Hembusan- 21 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau 2. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan   lalu lintas terhambat di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau dan di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi 

1. Gempa bumi di Baratdaya Klungkung, Bali
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Kamis tanggal 15 November 2018, pukul 00:23:30 WIB. Berdasarkan informasi dari  BMKG  pusat gempa bumi berada pada Kordinat 9,42° LS  dan 115,41° BT, dengan magnitudo 5,3 pada Kedalaman 20 Km, berjarak 78 Km BaratDaya Klungkung, Bali. Menurut informasi GFZ, pusat gempa bumi berada pada Kordinat 9,49° LS  dan 115,36° BT, dengan magnitudo 4,9 pada Kedalaman 57 KM.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi ini berada di laut, daerah terdekat pusat gempa bumi tersusun oleh batuan karbonat berumur Tersier dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, berasosiasi dengan sistem zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudera Indo - Australia.
Dampak Gempa Bumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena meskipun lokasinya berada di laut, namun tidak terjadi deformasi dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

2) Gempa bumi di Mamasa , Sulawesi Barat 
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 15 November 2018, pukul 06:31:25 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 119,44° BT dan 2,91° LS, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 12 km Timurlaut Mamasa, Sulawesi Barat. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 119,42° BT dan 2,93° LS, dengan magnitudo 4,8 mb pada kedalaman 10 km. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 119,368° BT dan 2,926° LS, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 10,0 km. 
Kondisi geologi daerah sekitar gempa bumi:Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi tersusun oleh batuan sedimen dan batuan malihan (batuan metamorf) berumur Pra Tersier yang membentuk lajur sesar dengan lereng curam dan kebanyakan lapuk. Batuan yang lapuk, urai, lepas, dan belum kompak (unconsolidated) dapat bersifat memperkuat guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Sesar Saddang disekitar daerah tersebut yang relatif berarah barat laut - tenggara.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Mamasa dengan intensitas III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena sumbernya berada di darat. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan, Barat dan Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Terasa- 6 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 16 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 15 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali getaran Banjir
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dengan tinggi sekitar 100 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 15 kali gempa Guguran- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 50 m di atas puncak. Letusan teramati berwarna hitam setinggi 200 - 600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2018 tercatat:- 221 kali gempa Letusan- 28 kali gempa Vulkanik Dangkal- 10 kali gempa Vulkanik Dalam- 79 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Harmonik- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 3 - 23 mm (dominan 6 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 23 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frequency- 19 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 400 – 1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur.
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 20 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui seismograf tanggal 15 November 2018 tercatat:- 95 kali gempa Letusan- 210 kali gempa Hembusan- 21 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak..(5) G. Krakatau, Lampung.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 November 2018 pukul 06:19 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 838 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 November 2018 pukul 11:51 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2658 m di atas permukaan laut atau sekitar 1400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Kampar, Provinsi Riau*, 2. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi*,
3. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 4.  Kabupaten Nagakeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 5. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 6. Kabupaten  Agam, Provinsi Sumatera Barat, 7. Kota Depok,  Provinsi Jawa Barat, 8. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 9. Kabupaten  Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, 10. Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 11. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 12. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 13. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. 

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
Material longsor sempat terjadi di ruas Jalan Lintas Riau-Sumatera Barat, menutup badan jalan di Kilometer 81 Desa Merangin Kecamatan Kuok setelah gerbang Waduk PLTA Koto Panjang dari arah Pekanbaru, sehingga sempat mengganggu arus lalu lintas, namun saat ini sudah lancer kembali setelah material longsor dibersihkan.
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/11/15/longsor-di-lintas-riau-sumbar-kecamatan-kuok-kamis-dini-hari-begini-kondisi-terkini 
Gerakan tanah diperkirakan berupa jatuhan batu pada lereng. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal daerah bekas penambangan raksyat serta dipicu oleh hujan yang deras dan kondisi geologi daerahnya rawan longsor.

2. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Ruas jalan nasional via Tapan tepatnya di puncak Sungaipenuh, Kabupaten Kerinci, Jambi, putus akibat sebuah bukit longsor. Pengendara roda dua dan roda empat pun terjebak tak bisa lewat. Longsor terjadi Rabu Malam, 14 November 2018.
Sumber:  https://www.viva.co.id/berita/nasional/1094624-akibat-longsor-jalan-nasional-di-puncak-sungaipenuh-lumpuh 
Gerakan tanah diperkirakan longsoran pada bukit. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal, dan kondisi geologi daerahnya rawan longsor serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi bercampur angina kencang.
Rekomendasi:
• Jalur tersebut rawan longsor terbukti sering terjadi longsor sehingga masyarakat dan pengguna jalan disekitarnya mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Diperlukan perkuatan lereng atau penahan jatuhan batu (rock trap) agar batu tidak langsung ke jalan;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Masyarakat dan pengguna jalan harus meningkatkan kesiapsiagaan terkait potensi longsoran susulan;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Tidak melakukan penggundulan hutan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
16 November 2018


Kasbani



Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Thu, 15 Nov 2018 23:24:48 +0000
Tanggapan Kejadian Gempa Bumi Tanggal 15 November 2018 di Barat Daya Kelungkung, Bali http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1522-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-tanggal-15-november-2018-di-barat-daya-kelungkung-bali http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1522-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-tanggal-15-november-2018-di-barat-daya-kelungkung-bali


Bersama ini, kami sampaikan laporan tanggapan kejadian gempa bumi di BaratDaya Klungkung, Bali, berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG dan GFZ, serta Analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sebagai berikut:

I. Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis tanggal 15 November 2018, pukul 00:23:30 WIB. Berdasarkan informasi dari  BMKG  pusat gempa bumi berada pada Kordinat 9,42° LS  dan 115,41° BT, dengan magnitudo 5,3 pada Kedalaman 20 Km, berjarak 78 Km BaratDaya Klungkung, Bali. Menurut informasi GFZ, pusat gempa bumi berada pada Kordinat 9,49° LS  dan 115,36° BT, dengan magnitudo 4,9 pada Kedalaman 57 KM.

II. Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi
Pusat gempa bumi ini berada di laut, daerah terdekat pusat gempa bumi tersusun oleh batuan karbonat berumur Tersier dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.

III. Penyebab gempa bumi
Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, berasosiasi dengan sistem zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudera Indo - Australia.

IV. Dampak Gempa Bumi
Dari Pos PGA Agung di Rendang dilaporkan goncangan pada sekala III MMI. Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena meskipun lokasinya berada di laut, namun tidak terjadi deformasi dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

V. Rekomendasi
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil
Demikian tanggapan kejadian gempa bumi di BaratDaya Denpasar ini kami sampaikan. 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi - KESDM



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Thu, 15 Nov 2018 01:58:03 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 15 November 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1521-laporan-kebencanaan-geologi-15-november-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1521-laporan-kebencanaan-geologi-15-november-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 15 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 200 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur - Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 10 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Getaran Banjir
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 7 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 15 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya merupakan gempa terasa pada skala III MII)
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Nopember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang, dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Utara - Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 50 m diatas puncak. Letusan teramati berwarna kelabu setinggi 300 - 1000 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 175 kali gempa Letusan- 24 kali gempa Vulkanik Dangkal.- 4 kali gempa Vulkanik Dalam- 81 kali gempa Hembusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 3 - 19 mm (dominan 6 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 November 2018 pukul 18:23 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1038 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tipis - tebal setinggi 100 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Tenggara - Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 39 kali gempa Guguran- 5 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 13 kali gempa Hembusan
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tebal - kelabu dengan ketinggian 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Baratlaut.
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 - 34 mm (dominan 8 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 November 2018 pukul 08:33 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 600 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Timur.
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 99 kali gempa Letusan- 92 kali gempa Hembusan- 38 kali gempa Guguran- 26 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 16:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat  kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan  dan bersifat sarang,   serta  dipicuh oleh hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan   retakan dan amblasan di  Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi


Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 200 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur - Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 10 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Getaran Banjir
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat.
Rekaman seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 7 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 15 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat - 2 kali gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya merupakan gempa terasa pada skala III MII)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dml, secara adinistratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate) , Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Nopember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas muka laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang, dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Utara - Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 50 m diatas puncak. Letusan teramati berwarna kelabu setinggi 300 - 1000 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 14 November 2018 tercatat:- 175 kali gempa Letusan- 24 kali gempa Vulkanik Dangkal.- 4 kali gempa Vulkanik Dalam- 81 kali gempa Hembusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 3 - 19 mm (dominan 6 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tipis - tebal setinggi 100 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Tenggara - Baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 39 kali gempa Guguran- 5 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 13 kali gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tebal - kelabu dengan ketinggian 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Baratlaut.
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 - 34 mm (dominan 8 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 600 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Timur.
Melalui seismograf tanggal 14 November 2018 tercatat:- 99 kali gempa Letusan- 92 kali gempa Hembusan- 38 kali gempa Guguran- 26 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak..(5) G. Krakatau, Lampung.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 November 2018 pukul 18:23 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1038 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah Timur - Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 November 2018 pukul 08:33 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.
(8) G. Ibu, Maluku Utara.
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Oktober 2018 pukul 12:58 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*,2.  Kabupaten Nagakeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 3. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 4. Kabupaten  Agam, Provinsi Sumatera Barat, 5. Kota Depok,  Provinsi Jawa Barat, 6. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 7. Kabupaten  Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, 8. Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 9. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 11. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 12.Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, 13.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 14.Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 15.Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, 16.Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Tingginya intensitas curah hujan di Trenggalek mengakibatkan lereng perbukitan di Desa Karangsoko, retak dan rawan longsor. Kondisi ini mengancam sejumlah pemukiman yang ada di bawahnya. Retakan dan pergerakan tanah ditemukan di RT 4 RW 1 Desa Karangsoko, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek. Panjang retakan tanah mencapai lebih dari 100 meter. Temuan pergerakan tanah ini kemarin, Selasa (13/11), tim dari BPBD dan instansi terkait sudah melakukan pengecekan di lokasi, diketahui tinggi perbukitan yang retak ini 200 meter dengan tingkat kemiringan antara 40-50 derajat.Pengecekan di lapangan diketahui, kondisi tanah sudah ambles sedalam 50 cm. Titik retakan tanah tersebut berada di hutan milik Perhutani dengan jarak sekitar kurang lebih 200 meter dari permukiman warga.
Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4301034/lereng-perbukitan-retak-ancam-pemukiman-warga-trenggalek?_ga=2.168215073.180647332.1542190312-748559969.1435383561 
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang tebal dan rapuh, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan retakan dan rayapan.
Rekomendasi:
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi terancam agar mengungsi apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan retakan akan menjadi longsor.
• Jangan melakukan pemotongan lereng terlalu tegak;
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Membuat rambu rambu bahaya tanah longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat BPBD/pemerintah daerah setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
15 November 2018



Kasbani



Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Thu, 15 Nov 2018 01:50:24 +0000