Laporan Kebencanaan Geologi 12 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari Selasa, 12 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tebal dengan tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu setinggi 500-800m. Terekam 36 kali guguran lava dan saat jelas teramati meluncur sejauh 50-1500m ke arah Timur-Tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 September 2017 Pukul 15:35 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 2960 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Tenggara.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 73 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 300-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 September 2017 pukul 08:50 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratlaut.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 60 kali erupsi/letusan, 56 kali hembusan dan 1 kali guguran lava. Saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Baratlaut-Utara. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu 
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat hujan deras yang terjadi selama 2 hari terkhir , serta erosi lateral  yang kuat dari aliran sungai.
Dampak :
1. Gerakan tanah / tanah longsor di Kawasan Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko mengakibatkan dua jembatan permanen penghubung antar desa di Kecamatan Ipuh, ambruk. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Tenggara Kaimana, Papua

Informasi Gempabumi;Gempabumi terjadi pada hari Senin, tanggal 11 September 2017, pukul: 09:42:12WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 4,29° LS  dan 134,37° BT, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 10 Km, berjarak 120 Km Tenggara Kaimana, Papua.
Dampak gempabumi;
Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab gempabumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Aru Through yang berada di sebelah baratdaya Pulau Papua.
Rekomendasi;
1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Satlak PB dan Satkorlak PB. 
2)Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tebal dengan tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali erupsi/letusan namun secara visual tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Terekam 36 kali guguran lava dan teramati meluncur sejauh 50-1500m ke arah Timur-Tenggara.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 73 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-20 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 300-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat-Baratlaut. Terdengar bunyi gemuruh lemah dan sekali dentuman sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hanya di pagi hari dan seterusnya berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 60 kali erupsi/letusan, 56 kali hembusan dan 1 kali guguran lava. Saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Baratlaut-Utara. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 11 September 2017 Pukul 15:35 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 2960 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur-Tenggara.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 11 September 2017 pukul 08:50 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu*,  
2. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat,  
3. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat,  
4. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh,  
5.Kabupaten Mukomuko, Provinsi  Bengkulu,  
6. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh ,  
7.Kabupaten Klaten, Provinsi  Jawa Tengah,  
8. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat,  
9. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu 
Longsor dan banjir terjadi di Kawasan Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko pada hari Minggu 10 September 2017 Dini hari.  Longsor tersebut mengakibatkan dua jembatan permanen penghubung antar desa di Kecamatan Ipuh, ambruk. Dua jembatan yang ambruk itu terdapat di Desa Retak Ilir-Desa Pasar Ipuh dan jembatan di Desa Tanjung Medan. Jembatan Desa Retak Ilir-Desa Pasar Ipuh yang terputus panjangnya sekitar 20 meter dan lebar 4 meter. Jembatan itu ambruk diterjang banjir bandang dini hari kemarin. Sementara di Desa Tanjung Medan, pangkal jembatan dengan panjang sekitar 5 meter dan lebar 4 meter mengalami longsor. Dampaknya, akses jalan di desa tersebut menjadi tersendat.
https://news.okezone.com/read/2017/09/11/340/1773416/2-jembatan-di-bengkulu-ambruk-diterjang-banjir-akses-antardesa-terputus
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat hujan deras yang terjadi selama 2 hari terkhir , serta tingkat erosi yang kuat dari aliran sungai.
Rekomendasi :
- Agar masyarakat yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
- Apabila hujan turun terus menerus terutama di bagian hulu, maka masyarakat yang terancam (bermukim di bagian hilir aliran sungai) perlu segera diungsikan.
- Perlu kontrol aliran sungai untuk memantau terjadinya akumulasi air di daerah hulu sungai.
- Masyarakat yang beraktivitas di daerah bencana perlu waspada dan segera meninggalkan lembah sungai apabila aliran sungai mulai keruh dan debitnya membesar.
- Segera memasang rambu rawan longsor di area yang terkena longsor.
- Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
- Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Tenggara Kaimana, Papua

Informasi Gempabumi;
Gempabumi terjadi pada hari Senin, tanggal 11 September 2017, pukul: 09:42:12WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 4,29° LS  dan 134,37° BT, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 10 Km, berjarak 120 Km Tenggara Kaimana, Papua. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi;
Pusat gempabumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempabumi yaitu Kepulauan Kai dan Kepulauan Aru. Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan Aluvium, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempabumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak gempabumi;
Sampai laporan ini dibuat belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat goncangan gempabumi ini.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun pusat gempabumi berada di laut, tetapi diperkirakan tidak terjadi dislokasi dasar laut.
Penyebab gempabumi;
Berdasarkan kedalaman pusatnya, gempabumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Aru Through yang berada di sebelah baratdaya Pulau Papua.
Rekomendasi;
1)Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Satlak PB dan Satkorlak PB. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
2)Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.





Bandung, 12 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>