Meski Sering Bergolak Dieng Tetap Memikat

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat
Dieng Culture Festival 2017, Foto: Alif
 
Dua Juli 2017, Masyarakat yang sedang berwisata di areal Kawah Sileri Dieng dikagetkan oleh air Kawah Sileri yang tiba-tiba menyembur ke udara setinggi 150 meter. 12 orang yang terkenana semburan lumpur dan terluka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama. Peristiwa itu mengingatkan kita pada 1944 di kawah sileri dan letusan freatik di Kawah Sinila pada 1979.  Kedua peristiwa itu menjadi catatan penting bagi dunia kegunungapian Indonesia. Meski setiap saat ancaman mengintai dan Bumi Dieng sepertinya tak pernah berhenti bergolak namun pesonanya tetap memikat hati. Terbukti saat ini ketika digelar Dieng Culture Festival (DCF) 4-6 Agustus 2017, tak kurang dari 100 ribu orang datang ke Negri di Atas Awan ini untuk menyaksikan berbagai atraksi budaya dan menikmati keindahan alam Dieng.
Struktur geologi di daerah Kompleks Dieng yang dipengaruhi pergerakan tektonik Kuarter masih aktif hingga sekarang. Sementara itu dari sisi kegunungapian, Dieng adalah puing yang terdiri dari beberapa kerucut setinggi 100-300 m, berderet sepanjang 14 km dengan lebar 6 km. Lajur gunung api ini memanjang ke barat daya-tenggara, kelanjutan dari deretan Gunung Sumbing-Sundoro. Untuk kepentingan Mitigasi dan Wisata agar terjamin rasa aman saat berada di Dieng, diperlukan sentuhan pengelolaan dari berbagai pihak, terutama para ahli geologi gunung api.

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat1
Ego Syahrial saat menjabat Kepala Badan Geologi lakukan pemeriksaan ke Sileri. Foto: Priatna
 
Hal penting yang harus diwaspadai adalah ciri khas aktivitas gunung api di Dataran Tinggi Dieng. Semburan gas racun menjadi penanda kegunungapian yang khas di Dataran Tinggi Dieng. Kejadian dahsyat pada 1979, warga Dieng harus kehilangan 149 orang karena menghirup gas beracun yang keluar dari Kawah Timbang setelah terjadi letusan freatik di Kawah Sinila. Kejadian yang luput dari ingatan adalah tahun 1944, letusan Kawah Sileri yang diawali gempa bumi menimbulkan korban jiwa 114 orang. Di samping itu, berdasarkan catatan sekurang-kurangnya pernah terjadi 15 peristiwa gempa dan letusan vulkanik yang juga sebagian mengakibatkan korban jiwa. Kawah-kawah yang akan dikaji dari sisi gas vulkanik serta implikasinya terhadap kawasan wisata Dieng itu adalah Kawah Sikidang, Kawah Sikendang, dan Kawah Sileri.
         
KAWAH SIKIDANG. Dari tiga kawah yang menjadi pusat perhatian, Sikidang menempati posisi pertama dari sisi banyaknya jumlah pengunjung. Kawah ini berada di sebelah selatan kawasan wisata Dieng, sekitar 800 meter dari Telaga Warna. Lokasinya berada di lahan agak datar, sehingga pengunjung dapat dengan jelas melihat gumpalan asap yang mengepul-epul putih dari Sikidang. Kawah di tengah lembah itu berdiameter sekitar 4 meter. Uap putih mengepul dan meliuk-liuk ditiup angin. Sementara di beberapa titik, muncul semburan air dan uap panas. Suara blek-blek kian terdengar saat mendekati bibir kawah. Semburan air panas berwarna abu-abu yang meloncat-loncat, tercium juga aroma belerang seperti bau telur busuk. Di sekitar Sikidang ada beberapa kawah kecil serta kawah mati. Sesuai namanya, kawah-kawah yang kecil ini selalu berpindah pindah seperti kidang (kijang).

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat2
Kawah Sikidang, kawah paling ramai diburu pengunjung, foto: Priatna

Kawah Sikidang menjadi objek “wisata kawah” di Dieng yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Hal ini dapat dimengerti dari kandungan gas karbon dioksidanya yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan kawah-kawah lainnya. Konsentrasi CO2-nya 5,65%, sehingga layak terus dikembangkan sebagai kawasan wisata Dieng. Meski demikian, penataan lingkungan di sekitar kawah harus menjadi perhatian, berupa pagar  pembatas dan papan peringatan tentang bahaya gas beracun yang mungkin terjadi.
 
KAWAH SILERI. Konsentrasi CO2 di Kawah Sileri sebesar 56,01% volume, sebaiknya tidak dikembangkan sebagai kawasan wisata. Namun, bila terpaksa terus dikembangkan, maka pembuatan pagar dan papan peringatan agar masyarakat tidak mendekati kawah mutlak harus dibuat. Begitu juga pemasangan pagar harus dilakukan di Kawah Sileri, jika tetap ingin dijadikan sebagai tempat kawasan wisata.
 
Papan peringatan yang terutama bermanfaat saat cuaca berkabut harus dipasang di beberapa tempat di sekitar Kawah Sileri. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terkait wajib mengembangkan materi sosialisasi kebencanaan geologi yang meliputi tata ruang, peta daerah rawan bencana, jenis dan gejala terjadinya bencana, mitigasi bencana, peta evakuasi, peta potensi kerentanan di daerah rawan bencana, SOP penanganan bencana, sistem peringatan dini (early warning system), dan buku bencana serta mitigasinya. Implikasi Penataan kawasan wisata Dieng berdasarkan karakteritik gas harus benar-benar dipahami. Di satu sisi, ancaman gas beracun mengintai setiap saat, tapi di sisi lain potensi wisatanya begitu besar untuk dikembangkan.

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat3
Penataan papan peringatan dan pagar batas kawah. Sketsa: Ayi Sacadipura.
 
Atas dasar itu data gas vulkanik yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam mitigasi bencana gunung api. Data gas vulkanik dapat digunakan sebagai referensi dalam pembuatan peta kawasan rawan bencana gunung api. Lebih lanjutnya, agar masyarakat memahami tingkat bahaya gas vulkanik, perlu dilakukan sosialisasi dalam berbagai tingkatan pengetahuan masyarakat. Selain itu, para ahli juga sangat diharapakan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang gas vulkanik kepada masyarakat. Selanjutnya, peta zonasi konsentrasi gas karbon dioksida di kawasan wisata Dieng sebagai salah satu produk analisis karakteristik gas vulkanik dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan penataan kawasan wisata Dieng.

PESONA DIENG YANG MEMIKAT. Pemandangan indah ini dapat dinikmati dari atas bukit sekitar Dieng Plateau Theatre. Tempat yang dikenal sebagai Batu Ratapan Angin ini memang merupakan tempat yang tepat untuk merasakan indahnya pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Pemandangan dari Batu Ratapan Angin, kini menjadi destinasi wisata unggulan di Dataran Tinggi Dieng, yang kian hari kian menjadi buah bibir para wisatawan domestik maupun mancanegara. Kawah, kompleks percandian, dan titik-titik untuk mengabadikan momen matahari terbit telah memikat banyak orang untuk datang ke Dieng.

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat4
Menyaksikan telaga Warna dan Pengilon dari Batu Ratapan Angin. Foto: Priatna

Untuk keamanan selama berwisata di Dataran Tinggi Dieng perlu ditata lebih baik lagi. Manajemen atau pengelolaan kawasan yang berbasis pada informasi kegeologian, lebih khusus mengenai karakter vulkanisme, sangat penting untuk dikedepankan. Apalagi kini Dieng menjadi destinasi wisata unggulan di wilayah Jawa Tengah, sehingga pemerintah daerahnya melalui kabupaten terkait dan dinas pariwisata mendapat tugas penting untuk mewujudkan Dieng sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman. Apalagi Dieng telah disebut-sebut sebagai calon geopark yang menjanjikan.
 
Penelitian berbasis kimia sangat penting untuk dikembangkan terus, karakterisasi tiap kawah harus diketaui secara mendetail. Ada kawah yang dominan manifestasi vulkanik, ada juga lebih dominan kepada manifestasi panas bumi. Yang paling penting adalah bagaimana mempersiapkan masyarakat Dieng agar peduli terhadap fenomena gas vulkanik yang melingkupi daur kehidupan mereka. Bila semuanya sudah terarah dalam satu visi mengedepankan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan, maka eksotisme Dieng akan tertata dengan baik.

meskiseringbergolakdiengtetapmemikat5
Wisata Kemilau Bumi jadi daya tarik Dieng, foto: Priatna
 
Selain alamnya menjadi magnet untuk berulang datang, khusus bagi para pemburu mentari Dienglah tempatnya. Dua tempat terpopuler Bukit Sikunir dan Gunung Prau di musim kemarau itulah menjadi tujuan utama mereka datang ke Dieng. Bukit Sikunir (2360 meter) di Desa Sembungan ditempuh dalam 30-45 menit. Sementara Gunung Prau denan tinggi 2565 meter dijangkau dalam 3 jam melalui Dieng.
 
Inilah Dieng tempat yang berjuluk Negri di atas Awan, meski aktivitas kebumiannya terus bergolak namum pesona yang disuguhkannya tetap memikat. Banyak orang datang dan kembali mendekat untuk mencari keberkahan. Dengan semakin ramainya orang datang akan berdampak pada pentingnya pengelolaan kawasan tersebut. Dalam kaitannya dengan penataan kawasan wisata Dieng, perlunya perhatian diarahkan pada kawah-kawah dengan manifestasi aktivitas kegunungapian Dataran Tinggi Dieng.



Penulis
Ir. Priatna
kasubbag Humas dan Kerja Sama
Sekretariat Badan Geologi.


<Berita Terkini>