Translating Long-term Hazard Assessment Into Short-term Actions During Volcano Crises: The Indonesia Experience

translatinglongtermhazardassessmentintoshorttermactionsduringvolcanocrisestheindonesiaexperience
Pemaparan Materi oleh Dr. Supriyati D. Andreastuti (Foto oleh: Donny Hermana)
 
Rangkaian gunung api aktif di wilayah Indonesia memiliki potensi sekaligus ancaman yang menjadikan negara ini harus membiasakan diri untuk memahami dan hidup berdampingan dengan kondisi alam ini. Melalui kegiatan geoseminar Pusat Survei Geologi pada 9 Juni 2017, Supriyati D. Andreastuti, yang merupakan salah satu ahli mitigasi bencana gunung api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,  memaparkan pandangannya mengenai bagaimana melakukan tindakan jangka pendek selama masa krisis atau erupsi gunung api berdasarkan penilaian jangka panjang potensi bencana gunung api di Indonesia.
 
Pemetaan geologi dan bencana gunung api merupakan suatu kegiatan jangka panjang yang kemudian dibandingkan dengan penilaian jangka pendek melalui kegiatan pengamatan data, baik secara digital maupun secara langsung dengan pengamatan lapangan. Pada kesempatan kali ini pembicara memberikan contoh bagaimana proses tersebut diimplementasikan pada Gunung Sinabung. Dari hasil pembandingan tersebut, pada saat terjadi masa krisis gunung api, akan dapat dihasilkan sebuah skenario dan tahapan apa saja yang akan dilakukan untuk proses mitigasi, sistem peringatan dini, dan pemodelan bencana. Selanjutnya dari hasil tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendeliniasi kawasan rawan bencana, mengetahui potensi hasil erupsi yang membahayakan masyarakat, membantu dalam skenario koordinasi dan komunikasi dengan pihak berkepentingan, persiapan dan ulasan rencana penanggulangan, kegiatan simulasi, dan sosialisainya.
 
Pada intinya adalah dapat memberikan informasi dan membangun komunikasi yang baik dengan berbagai pihak berkepentingan terutama yakni masyarakat sehingga nantinya menerus sampai pada tahap pembaruan model suatau bencana, evaluasi kawasan rawan bencana, proses evakuasi, kemungkinan relokasi,  dan peninjauan ulang mengenai rencana tata ruang suatau wilayah.  Namun demikian, pada kegiatan di lapangan tentu banyak hambatan yang terjadi, dalam hal ini sebagai contoh adalah G. Sinabung, seperti terbatasnya data sejarah gunung api, terbatasnya data kepadatan penduduk, perubahan zona rawan bencana akibat erupsi yang menerus, peralatan pemantauan yang terbatas, komunikasi dan koordinasi yang kurang efektif.
 
Untuk itu, menurut pembicara tantangan yang perlu dihadapai adalah bagaimana membangun sistem peringatan dini bencana, koordinasi dan komunikasi berbagai pemangku kepentingan yang efektif, peningkatan kapasitias tim pemantauan, skenario dan pelatihan evakuasi, perlu tidaknya sebuah relokasi, dan membangun masyarakat yang sadar bencana melalui program mitigasi.
 
Selanjutnya pada sesi diskusi juga membahas mengenai bagaimana karakter dan tipe gunung api kaitannya dengan potensi erupsi yang umumnya didominasi oleh tipe stratovulcano, kegiatan jangka panjang terkait dengan penelitian atau penyelidikan sejarah gunung api yang didasari oleh prioritas pengamatan berdasarkan intensitas erupsi dan potensi bencananya, mengenai bagaimana sudut pandang pembicara terhadap pemanfaatan wisata bencana yang tidak patut untuk dilakukan pada masa-masa krisis, hingga bagaimana batasan tugas dan fungsi antar lembaga seperti halnya instansi Badan Geologi dan Badan Nasional Penanggualan Bencana terkait dengan proses pemulihan kawasan bencana.
   
Sumber: Arief Prabowo
Editor: R. Isnu H. Sulistyawan

<Berita Terkini>