Perkembangan Geopark Indonesia

 Perkembangan Geopark Indonesia

 

Geopark dalam konsep pembangunan berkelanjutan memiliki tujuan mulia yaitu merubah pola pikir (mindset) pemanfaatan sumber daya alam (khususnya sumber daya geologi) yang selama ini baru dimanfaatkan melalui kegiatan ekstraktif (tambang) yang dirubah menjadi upaya konservatif untuk meningkatkan perekonomian lokal maupun regional. Semangat (spirit, roh) geopark adalah menyatukan perlindungan warisan geologi ke dalam strategi pengembangan sosiobudaya dan ekonomi yang harmonis dengan konservasi lingkungan alam. Tujuannya selain untuk melindungi warisan geologi, juga memicu kebangkitan kembali budaya dan memperkuat hubungan manusia dengan lingkungannya. Praktek pengembangan sosial budaya ekonomi masyarakat (community development) dalam geopark terwujud melalui pengelolaan kawasan yang mandiri serta tercermin dalam aktifitas-aktifitas (konservasi, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan) yang diciptakan secara kreatif dan menarik serta berbasis pada upaya pelestarian nilai-nilai luhur sebuah kawasan tersebut, salah satu contohnya adalah kegiatan pariwisata perdesaan berkelanjutan yang memicu aktifitas ekonomi kreatif misalnya; pengembangan penginapan tradisional (home stay), inovasi penciptaan cindera mata, obat-obatan herbal tradisional, pagelaran pertunjukan seni budaya setempat, hingga kuliner khas setempat menjadi penyelenggaraan pariwisata berkelanjutan yang sesuai dan menghargai karakteristik budaya daerah setempat. Konsep Geopark telah diakui dunia sebagai konsep yang terbaik pada saat ini dalam hal pemanfaatan sumber daya geologi yang berkelanjutan, terbukti hingga saat ini telah terdapat 120 kawasan geopark global yang tersebar di 40 negara serta melalui melalui sidang umum UNESCO ke 38 di Paris pada 17 November 2015, Geopark secara resmi diakui sebagai salah satu program UNESCO bernama International Geoscience and Geopark Programe (IGGP) dan Pedoman Operasional Geopark Global UNESCO tersebut termuat dalam Dokumen 38C/14 UNESCO.

Sejak tahun 2008, Indonesia melalui Badan Geologi, Kementerian ESDM yang bekerjasama dengan Komisi Indonesia untuk UNESCO (KNIU) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kemenko Kemaritiman, Kemenko Perekonomian, Bapenas, serta pemerintah daerah telah menerapkan konsep geopark dalam pemanfaatan sumber daya alam. Konsep tersebut dirasakan sangat cocok untuk dikembangkan, terbukti dengan perkembangan yang cukup pesat di Indonesia dibandingkan dengan negara – negara asia tenggara lainnya (pada tahun 2011, Asia tenggara memiliki 2 Geopark Global yaitu 1 di malaysia dan 1 di Vietnam, pada tahun 2016 ini terdapat 4 geopark global yaitu 1 malaysia, 1 Vietnam, dan 2 di Indonesia). Hingga akhir tahun 2016, Indonesia memiliki 4 kawasan Geopark Nasional (Kaldera Toba, Merangin Jambi, Ciletuh-Pelabuhan Ratu, dan Rinjani) dan 2 kawasan Geopark Global Unesco (Gunung Batur, Bali dan Gunung Sewu), serta setidaknya terdapat + 20 kawasan yang menjadi kandidat geopark nasional. Selain itu, data yang dihimpun oleh Tim Task Force RMGG, Kementerian ESDM, menunjukan bahwa kunjungan pada seluruh kawasan geopark di Indonesia sebesar 5.624.493 orang kunjungan domestik dan 642.000 orang kunjungan mancanegara, dengan peredaran uang di kawasan kawasan geopark tersebut sebesar + 3,5 T. Namun, hingga saat ini, tim masih melakukan kolekting data untuk mengetahui seberapa besar pendapatan daerah yang dihasilkan oleh kawasan-kawasan tersebut. Angka tersebut merupakan nilai yang cukup luar biasa dalam upaya pemanfaatan sumber daya geologi yang berkelanjutan, sehingga kegiatan tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi secara nasional. Tidak hanya itu saja, berdasarkan pemantauan tim, manfaat lainnya adalah terjadinya pergeseran pola pikir (mindset) dan budaya (revolusi mental) dari masyarakat yang tadinya kurang peduli terhadap upaya konservasi pada lingkungan sekitarnya menjadi sebuah masyarakat yang sangat peduli akan lingkungannya.

Oleh karena itu, Badan Geologi mengadakan Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja Pengembangan Geopark Indonesia pada tanggal 20 s.d 21 Januari 2017, pukul 16.00 WIB di Hotel Santika Premiere Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini adalah upaya sinkronisasi kegiatan di setiap Kementerian terkait maupun Pemerintah Daerah dalam pengembangan dan pembangunan Geopark di Indonesia. Acara dihadiri oleh para perwakilan Instansi terkait.

Kepala Badan Geologi, Ego Syarial dalam sambutannya menjelaskan bahwa Badan Geologi sebagai salah satu unit eselon 1 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah berkomitmen kuat sejak awal dalam upaya pengembangan konsep geopark di Indonesia serta turut mendukung beberapa program prioritas nasional Indonesia (Perpres no. 45 tahun 2016 tentang RKP tahun 2017), dengan total anggaran sebesar 7,3 M yang terbagi menjadi 3 program, yaitu :

  • Program geodiversity dan geoheritage pada 7 kawasan dari 10 kawasan prioritas nasional destinasi wisata.
  • Program Koordinasi dan Pengembangan Geopark di Indonesia.
  • Program Pengembangan Geopark Nasional Kaldera Toba.

Hasil Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja Pengembangan Geopark Indonesia :

  1. Akan segera dibentuk Tim Ad Hoc Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) yang direncanakan finalisasi pada akhir Maret 2017.
  2. Percepatan penyelesaian PERPRES Pengembangan Geopark Indonesia.
  3. Penambahan Tugas dan Fungsi Tim Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI)  yaitu sebagai Pendamping atau Fasilitator Pemerintah Daerah dalam menyampaikan usulan rencana kerja terkait Geopark ke Pemerintah Pusat.
  4. Pola penganggaran Kawasan dapat ditempuh melalui MUSRENBANGPROV dan MUSRENBANGNAS, diharapkan Tim Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI)  dapat melakukan pendampingan.
  5. Dibutuhkan konsep yang jelas mengenai Penataan Geosite dan Aminitas di setiap Kawasan Geopark serta sarana promosi terpadu.
  6. Penegasan Komitmen dan dukungan yang konkrit dari Pemda Kabupaten yang terkait Geopark Kaldera Toba.
  7. Dibutuhkan keterlibatan Kemendagri dalam Pengembangan Geopark di Indonesia, oleh karena itu perlu penambahan materi dalam PERPRES.
  8. Target Geopark Nasional Tahun 2017 antara lain Geopark Belitong, Geopark Maros Pangkep, Geopark Tambora, Geopark Bromo Tengger, dan Geopark Dieng.

perkembangangeoparkindonesiaKiri-kanan: Yun Yunus, Ketua Tim Task Force RMGG Tahun 2016, Ego Syahrial, Kepala Badan Geologi, Safri Burhanuddin, Deputi Bidang SDM IPTEK dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Arif Rahman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

perkembangangeoparkindonesia1Sambutan Kepala Badan Geologi, Ego Syahrial pada acara Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja Pengembangan Geopark Indonesia Tahun 2017 .

perkembangangeoparkindonesia2Press Conference Kepala Badan Geologi, Ego Syahrial dengan Media.

 perkembangangeoparkindonesia3Ramah Tamah Kepala Badan Geologi, Ego Syahrial dengan Tim Geopark Badan Geologi dan Kementerian terkait.


Pengirim : Lilies Marie

 

 

<kembali>