Hydrological Heritage: Dalam Prespektif Warisan Geologi

Bidang Geosains - Pusat Survei Geologi

 Bandung- Dalam rangka memperingati Hari Air yang jatuh pada hari ini Tanggal 22 Maret 2019, kami coba mengulas hydrological heritage dalam prespektif warisan geologi sebagai upaya konservasi sumber daya air di Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa sumber daya air di bumi ini, 97% merupakan salt water atau air asin dan hanya 3% saja yang merupakan fresh water atau air tawar yang bisa pergunakan untuk kebutuhan hidup manusia. Dari jumlah 3% air tawar yang terdapat di bumi ini, 70% -nya berupa es di kutub bumi dan 30%-nya bercampur dalam lapisan tanah dan sebagai air tanah di dalam akuifer bawah pemukaan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa dari total 30% tersebut hanya kurang dari 1% saja yang bisa digunakan langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (US Geological Survey, 2009). Dari hasil laporan PBB, Indonesia termasuk dalam 10 negara yang menggunakan air paling besar (dari volumenya) bersama China, Amerika Serikat, Pakistan, Jepang, Thailand, Bangladesh, Meksiko dan Rusia (3rd UN World Water Development Report, 2009).

 Dari gambaran di atas kita bisa bayangkan betapanya berharga air dalam kehidupan kita. Berbagai upaya tentunya harus dilakukan untuk menjamin ketersedian air di masa mendatang, salah satunya dengan melakukan konservasi sumber daya air, melalui konsep Hydrological Heritage. Istilah Hydrological Heritage tidak begitu popular di Indonesia, apa itu Hydrological Heritage? Dalam literature terdahulu disampaikan bahwa hydrological heritage adalah bagian dari warisan geologi yang dibangun dari fenomena keragaman hidrologi yang memiliki nilai penting dilihat dari aspek lingkungan, sumberdaya, ilmiah, pendidikan, sosial budaya dan keindahan (Simic, 2009). Dari pengertian di atas, sebenarnya di Indonesia sudah mengadaptasi konsep warisan tersebut, dimana beberapa Air Terjun, Mata Air Panas (Geyser) dan Danau sudah ditetapkan menjadi situs warisan geologi yang dimasukan dalam klasifikasi warisan geologi bentang alam (geomorfologi), bukan dalam klasifikasi tersendiri “Hydrological Heritage”. Jika dilihat secara umum situs warisan geologi, seperti air terjun, mata air, dan danau di Indonesia, karena masuk dalam klasifikasi bentang alam geologi sehingga pada saat akan dilindungi kajiannya masih menitikberatkan pada nilai keindahan (aestetik) untuk kepentingan pengembangan pariwisata, belum menjangkau aspek lain seperti nilai kepentingan konservasi lingkungan, ilmiah, pendidikan dan sosial budaya. Oleh karena itu perlu dikaji dan susun sebuah standar atau parameter dalam identifikasi dan penilaian warisan hidrologi “Hydrological Heritage”. Hal ini sangat penting untuk keragaman hidrologi (air terjun, sungai, mata air, dan danau) yang mungkin memiliki nilai tinggi dari aspek lainnya untuk ditetapkan menjadi warisan hidrologi, sehingga perlindungan warisan hidrologi tidak hanya mengedepankan keindahan semata untuk objek pariwisata, tetapi lebih jauh untuk menjaga sumber daya air untuk kehidupan di masa mendatang.

situ

 Sebagai contoh dari gambaran diatas adalah keragaman hidrologi “Situ Cisanti” yang konon berasal dari 7 mata air disekitar Gunung Wayang dan merupakan hulu dari Sungai Citarum sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat (Gambar 1), mungkin selain memiliki nilai keindahan yang tinggi, juga memiliki nilai konservasi lingkungan dan sosial budaya yang tinggi sehingga menjadi penting untuk dilindungi untuk menjaga keberlangsungan sumber mata air di Jawa Barat.

 

W.H. Auden Quotes: Thousands have lived without love, not one without water, Happy Water Day..

 

 

Penulis Oleh: Asep Kurnia Permana