Laporan Kebencanaan Geologi 20 Desember 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY

Hari ini, Kamis 20 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 300 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- tidak ada aktivitas kegempaan 
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 20 m, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 10 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 6 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 5 kali gempa Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asal kawah dengan tinggi 100 m dari puncak, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 42 kali gempa Guguran- 13 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 9 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 100 m, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah ke arah timur laut dan barat laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 17 kali gempa Harmonik- Tremor menerus dengan amplitudo 2-58 mm, dominan 35 mm
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Desember 2018 pukul 18:57 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 50 m dari puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan barat laut. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 58 kali gempa Guguran- 14 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Hybrid- 9 kali gempa Low Frequency
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah  teramati setinggi 200 m, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 200 m dan warna asap putih hingga kelabu.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 9 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 88 kali gempa Letusan- 78 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Guguran- 43 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 6 – 31 mm
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, 2.Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Penyebab: Penyebab amblesan Surabaya ini bukan karena gempabumi atau liquifaksi karena tidak ada kejadian gempabumi pada saat itu . Untuk di Kab. Simalungun, penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal, dan kondisi geologi daerahnya rawan longsor, kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh curah hujan yang tinggi.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan jalan ambles di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur; jalan belum bisa dilalui kendaraan, terjadi antrian cukup panjang serta 1 unit Toyota rush, 1 pickup dan 1 tronton rusak terkena material longsoran beruntung tidak ada korban jiwa di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Tenggara Bolaang Mongondo, Sulawesi Utara
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi utama terjadi pada hari Rabu, 18 Desember 2018 pukul 18:25:07 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat  0.17 LS dan 124.39 BT, dengan magnitudo 5.3 pada kedalaman 10 km, berjarak 88 km Tenggara Bolaang Mongondo Sulawesi Utara. 
Kondisi Daerah Terkena Gempa Bumi:Secara geologi, daerah yang terkena gempa bumi tersusun oleh batuan vulkanik yang berumur Tersier, dan endapan aluvium yang berumur Kuarter. Goncangan gempa bumi juga akan dirasakan di daerah yang tersusun batuan sedimen Tersier dan Batuan berumur Pra-Tersier yang telah terlapukkan yang berada di sekitar daerah tersebut. Endapan yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi akan berpotensi memperkuat efek goncangan gempa bumi, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi. 
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan disebabkan oleh aktivitas zona subduksi di sebelah timur Sulawesi Utara.
Dampak Gempa Bumi:Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi: (1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi dan tsunami. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Anak Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 300 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frequency- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- tidak ada aktivitas kegempaan 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 20 m, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 10 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 6 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 5 kali gempa Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut. Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada jarak 8-10 km dari puncak. Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang). Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar). Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan. Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai adalah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut. Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Hingga saat ini tremor menerus masih terekam mengindikasikan bahwa erupsi masih berlangsung.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asal kawah dengan tinggi 100 m dari puncak, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 42 kali gempa Guguran- 13 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 20 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 9 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 100 m, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah ke arah timur laut dan barat laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 17 kali gempa Harmonik- Tremor menerus dengan amplitudo 2-58 mm, dominan 35 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 50 m dari puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan barat laut. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 58 kali gempa Guguran- 14 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Hybrid- 9 kali gempa Low Frequency
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah  teramati setinggi 200 m, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 200 m dan warna asap putih hingga kelabu.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 9 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Desember 2018 tercatat:- 88 kali gempa Letusan- 78 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Guguran- 43 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 6 – 31 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Desember 2018 pukul 18:57 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 638 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,  NTB, NTT, Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:
1. Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur*, 2.Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara*, 3. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, 4. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, 5. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, 6.Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, 7. Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, 8.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 9.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 10.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 11.Kota Tomohon, Sulawesi Utara, 12. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 13. Kota Padang , Provinsi Sumatera Barat, 14. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, 15. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 16. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 17. Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, 18. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 19. Kabupaten Gayo, Provinsi Aceh,   20.Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, 21.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 22. Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI, 23. Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. 

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kota Surabaya,  Provinsi Jawa Timur
Pada hari Selasa (18/12/2018) malam sekitar pukul 23.00 WIB, Jalan Gubeng Surabaya ambles. Diperkirakan ruas jalan Gubeng Surabaya yang ambles sekitar lebarnya 50 meter dengan kedalaman 10 meter. Amblesan di Jalan Gubeng Surabaya dengan lebar 50 meter dan kedalaman 10 meter, diduga karena kesalahan konstruksi karena dinding penahan beton yang kurang rapat dan berlubang.
Sumber; http://suryamalang.tribunnews.com/2018/12/19/jalan-gubeng-surabaya-ambles-pejabat-ini-akibat-proyek-basement-rs-siloam http://kaltim.tribunnews.com/2018/12/19/jalan-gubeng-surabaya-ambles-diduga-dinding-penahan-proyek-basement-tidak-kuat-begini-analisanya 
Penyebab amblesan diduga karena dinding penahan beton yang kurang rapat atau terdapat celah pada dinding penahan sehingga terjadi tekanan lateral dan gaya dorong karena meningkatnya tekanan air yang kuat, sehingga terjadi tarikan pada lokasi tersebut dan terjadi amblesan. Amblesan ini bukan karena gempabumi atau liquifaksi karena tidak ada kejadian gempabumi pada saat itu.  

2. Kabupaten  Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Bencana longsor terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di Jembatan Kembar atau Jembatan Sidua-dua, Girsang Sipangan Bolon, Simalungun, Sumut, Selasa (18/12) sore. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah kendaraan tertimbun dan jalur Siantar-Parapat terputus. Longsor awalnya terjadi dari bukit hulu sungai sekitar pukul 11.30 Wib. Longsoran berupa lumpur menimbun jembatan sebelah kiri. Sempat dilakukan upaya pembersihan material longsor di atas jembatan hingga pukul 16.45 Wib. Namun terjadi longsor susulan yang lebih dahsyat dan menyebabkan putusnya akses kedua jembatan. Satu unit Toyota Rush rusak parah di atas jembatan. Jalur  Parapat – Siantar dan belum bisa dilalui kendaraan, terjadi antrian cukup panjang serta 1 unit Toyota rush, 1 pickup dan 1 tronton rusak terkena material longsoran beruntung tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini.
Sumber:https://www.hetanews.com/article/145988/3-mobil-terjebak-longsor-di-jembatan-kembar-parapat-simalungun ; https://m-merdeka-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.merdeka.com/amp/peristiwa/longsor-di-jalinsum-jalur-siantar-parapat-putus-
Penyebab gerakan tanah diduga karena curah hujan yang sangat tinggi, kelerengan yang curam serta kondisi geologi yang rawan longsor. Kemungkinan terjadi longsoran yang menimbun alur sungai kecil kemudian karena curah hujan tinggi memicu longsoran yang lebih besar. Tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan (material tanah dan batang kayu).
Rekomendasi:
• Segera memasang dinding penahan agar amblesan tidak meluas;
• Saluran aliran air diusahakan tidak masuk ke dalam area tersebut supaya amblesan tidak meluas;
• Hindari konsenterasi masyarakat yang banyak atau dikasih batas pengaman agar masyarakat tidak berkumpul atau menonton kejadian tersebut dikhawatirkan daerah sekitar lokasi amblesan tersebut masih labil;
• Pengguna jalan dan masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama;
• Pembersihan material longsoran harap memperhatikan cuaca dan waspada akan poensi longsoran susulan yang lebi besar lagi;
• Material longsoran segera dibersihkan dengan memperhatikan cuaca dan menunggu hujan reda agak lama;
• Hindari konsenterasi masyarakat yang banyak atau dikasih batas pengaman agar masyarakat tidak berkumpul atau menonton kejadian longsor tersebut karena dikhawatirkan longsoran susulan masih ada terutama jika hujan turun;
• Pengguna jalan dan masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadi longsoran baru dan longsor susulan;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
• Diperlukan penguatan lereng pada tebing rawan longsor dan rekayasa engineering terhadap longsoran di alur-alur sungai;
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
20 Desember 2018


Kasbani


Berita Terkini