Laporan Kebencanaan Geologi 12 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 12 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Maret 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Guguran- 1 kali Gempa Low-Frequency- 9 kali Gempa Hembusan- 4 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 9 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Terekam dan teramati erupsi pada 11 Maret 2018 pukul 23:20 WITA dengan kolom abu setinggi 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur. Rekaman seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (satu di antaranya terasa dengan intensitas MMI III)
Tanggal 12 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-21 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Maret 2018 pukul 08:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 112 kali Gempa Letusan- 110 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Batu, Provinsi Jawa Timur2. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat3. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah4. Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah5. Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi
Penyebab : Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menutupi jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan seperempat kiri jalan dari Batu menuju Pujon tertutup material longsoran di Kota Batu (Provinsi Jawa Timur); jalur jalan penghubung antar kampung tertutup material longsoran di Kabupaten  Tasikmalaya (Provinsi Jawa Barat); 1 (satu) rumah rusak serta kerugian materil sekitar 10 juta rupiah di Kabupaten Temanggung (Provinsi Jawa Tengah); talud rusak serta kerugian materil sekitar 30 juta rupiah di Kabupaten Tegal (Provinsi Jawa Tengah);  ruas jalan puncak mengalami kemacetan selama 14 jam dari pukul 19.00 WIB – pukul 08.30 WIB; di Kota Sungai Penuh  (Provinsi Jambi)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu* G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Maret 2018 tercatat:- 7 kali Gempa Guguran- 1 kali Gempa Low-Frequency- 9 kali Gempa Hembusan- 4 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 9 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Terekam dan teramati erupsi pada 11 Maret 2018 pukul 23:20 WITA dengan kolom abu setinggi 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur. Rekaman seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (satu di antaranya terasa dengan intensitas MMI III)
Tanggal 12 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-21 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 11 Maret 2018 tercatat:- 112 kali Gempa Letusan- 110 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Maret 2018 pukul 08:47 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

1.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur*, 2.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat*, 3.Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah*, 4.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah*, 5.Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi*, 6.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, 7.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, 8.Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, 9.Buleleng, Provinsi Bali, 10.Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 11.Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, 12. Kota Jayapura, Provinsi Papua, 13.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 14.Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, 15.Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 16.Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 17.Kabupaten Buleleng, Bali, 18.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 19. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, 20. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, 21. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, 22. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat), 23. Kota Yogyakarta, Provinsi D.I. Yogyakarta, 24.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 25.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 26.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 27.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat, 28.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 29.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 30.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta,  31.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 32.Kabupaten Wonogiri, Provinsi D.I.Yogyakarta, 33.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung,.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di Jalan Raya Payung Kota Batu menuju Pujon, Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu malam, 10 Maret 2018. Gerakan tanah mengakibatkan seperempat kiri jalan dari Batu menuju Pujon tertutup material longsoran.
Sumber berita : https://www.malang-post.com/berita/kota-batu/payung-kembali-longsor
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing jalan setinggi 10 meter, lebar 4 meter dan panjang 7 meter. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten  Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi pada jalan yang menghubungkan antar kampung di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu, 10 Maret 2018. Gerakan tanah mengakibatkan jalur jalan penghubung antar kampung tertutup material longsoran.
Sumber berita: https://www.antaranews.com/berita/692060/ciawi-banjir-dan-longsor-ratusan-rumah-tergenang
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menutupi jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

3.Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi Dusun Banyu Urip RT 01/05, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah pada hari Minggu, 11 Maret 2018. Gerakan tanah mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak serta kerugian materil sekitar 10 juta rupiah.
Sumber berita : http://krjogja.com/web/news/read/60179/Longsor_Landa_Kaloran
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa pemukiman yang berada di bawahnya. Penyebab gerakan tanah diantaranya karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

4.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Desa Tembongwah Rt. 04 Rw. 03, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 sekitar pukul 18.30 WIB. Gerakan tanah tersebut mengakibatkan talud rusak serta kerugian materil sekitar 30 juta rupiah.
Sumber berita : https://tribratanews.tegal.jateng.polri.go.id/paska-talut-longsor-anggota-polsek-balapulang-bersama-warga-melaksanakan-corve/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

5.Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi
Gerakan tanah terjadi pada ruas jalan Sungai Penuh via Tapan KM 6, Provinsi Jambi. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu malam, 10 Maret 2018. Gerakan tanah mengakibatkan ruas jalan puncak mengalami kemacetan selama 14 jam dari pukul 19.00 WIB – pukul 08.30 WIB, karena material longsor menutupi badan jalan.
Sumber berita : http://jambiupdate.co/artikel-longsor-di-puncak-jalan-sungai-penuh--tapan-sempat-macet-14-jam.html
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menutupi jalan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
*Rekomendasi: 
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali kendaraan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana serta pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama pada waktu hujan;
• Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
• Tidak mendirikan bangunan yang terlalu dekat dengan tebing yang terjal;
• Menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk menahan lereng;
• Segera memperbaiki talut yang rusak;
• Membuat saluran drainase yang kedap air;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.




Bandung, 12 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini