Laporan Kebencanaan Geologi 11 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 11 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis hingga tebal tekanan lemah teramati setinggi 100 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 10 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Guguran- 9 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 28 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 11 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (1 kali di antaranya terasa MMI III)
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Maret 2018 pukul 02:03 WITA, terkait dengan aktivitas hembusan asap putih, angin bertiup ke Timur dan Barat.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tekanan sedang teramati 100-200 m dari puncak. Angin ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Maret 2018 pukul 08:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 130 kali Gempa Letusan- 117 kali Gempa Hembusan- 39 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah2. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah3. Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur4. Buleleng, Provinsi Bali5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat6. Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur7. Kota Jayapura, Provinsi Papua8. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. 
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan 2 rumah warga rusak berat, 1 di antaranya hancur terbawa longsor di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah); dua kelas Sekolah dasar itu mengalami rusak parah di Kabupaten Kendal (Jawa Tengah); satu rumah rusak di Kabupaten Nganjuk,( Provinsi Jawa Timur) dan di Kabupaten Buleleng (Provinsi Bali); 1 rumah dan 1 kios tertimbun serta memutus akses jalan akibat tertimbun material longsor di  Kabupaten Cianjur ( Provinsi Jawa Barat); sebagian badan jalan tertutup dan amblas dan lalu lintas terganggu di  Kabupaten Pamekasan ( Provinsi Jawa Timur);  pohon besar tumbang yang menimpa tiang listrik dan jalan di  Kota Jayapura ( Provinsi Papua); jalan antardesa tertimbun material longsoran di  Kabupaten Kuningan (Provinsi Jawa Barat)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu* G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis hingga tebal tekanan lemah teramati setinggi 100 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 10 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Guguran- 9 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 28 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
Tanggal 11 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (1 kali di antaranya terasa MMI III)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tekanan sedang teramati 100-200 m dari puncak. Angin ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 10 Maret 2018 tercatat:- 130 kali Gempa Letusan- 117 kali Gempa Hembusan- 39 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Maret 2018 pukul 02:03 WITA, terkait dengan aktivitas hembusan asap putih, angin bertiup ke Timur dan Barat.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Maret 2018 pukul 08:47 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah*, 2.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur*, 4.Buleleng, Provinsi Bali*, 5.Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*, 6.Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur*, 7. Kota Jayapura, Provinsi Papua*, 8.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat*, 9.Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, 10.Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 11.Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 12.Kabupaten Buleleng, Bali, 12.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 13. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, 14. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, 15. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, 16. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat), 17. Kota Yogyakarta, Provinsi D.I. Yogyakarta, 18.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 19.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 20.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 21.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat, 22.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 23.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 24.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta,  25.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 26.Kabupaten Wonogiri, Provinsi D.I.Yogyakarta, 27.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, 28. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat,  29.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 30. Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan , 31. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah sejak kemarin menyebabkan bencana tanah longsor. Sebanyak 2 rumah warga rusak berat, 1 di antaranya hancur terbawa longsor.
Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3906778/longsor-terjang-rumah-warga-di-kebumen
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang mengguyur desa Bringinsari pada Rabu (7/3), Kecamatan Sukorejo Kendal mengakibatkan tebing pekarangan belakang sebuah rumah di desa Bringinsari longsorLongsoran tanah itu menimpa bangunan SDN 2 Bringinsari yang lokasinya tepat berada di belakang tebing itu. Akibat dua kelas Sekolah dasar itu mengalami rusak parah.
Sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2018/03/08/lagi-belajar-diterjang-longsor-siswa-langsur-berhamburan-tak-peduli-hujan-lebat-menguyur-tubuhnya
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3.Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur
Kejadian tanah longsor yang kesekian kalinya terjadi di wilayah Nganjuk. Kali ini bencana alam tersebut menimpa rumah milik Yainem (83) yang beralamatkan di Dusun Nglebak Desa Klodan Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang mengakibatkan tempat tinggalnya tersebut ambruk di bagian belakang, Jumat (9/3/18).Sebelumnya Dusun Ngeblak diguyur hujan dengan intensitas tinggi selama kurang lebih 2 jam tanpa henti. Hal itu membuat tanah disekitar lokasi longsor mulai tergerus air, apalagi sebelumnya memang sudah ada retakan sebelum terjadinya longsor.Menurut saksi mata sekaligus korban Yainem, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari dia mendengar suara gemuruh di belakang rumahnya. Spontan Yainem langsung mengecek ke belakang rumah dan didapatinya bagian belakang rumahnya sudah ambruk akibat terjangan tanah longsor..
Sumber:  https://nusantaranews.co/lagi-tanah-longsor-timpa-rumah-warga-di-nganjuk/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
Satu rumah milik warga di Lingkungan Bebengan, Dusun Tabang, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan tertimbun tanah longsor, Kamis (7/3). Rumah semi pernanen itu rusak parah, hingga keluarga menempati rumah tersebut terpaksa mengungsi ke rumah keluarganya.Informasi dikumpulkan di lapangan menyebutkan, sebelum kejadian hujan deras mulai melanda Buleleng sekitar pukul 13.15 Wita. Saat kejadian, pemilik rumah Made Mudarsa bersama istrinya Nengah Suarmini sedang bekerja.Sementara anaknya Kadek Ranggara Putra Dinata, serta Putu Ari Ardianti sedang bermain di rumah temannya. Saat itu tiba-tiba tanah terjal tepat di atas posisi bangunan rumahnya longsor. Tanah dengan ketinggian sekitar 7 meter itu ambruk dan menimpa bagian belakang rumah Mudarsa.
Sumber: http://www.balipost.com/news/2018/03/08/39565/Rumah-Tertimbun-Longsor,Sekeluarga-Mengungsi.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi  Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di 2 (dua) titik pada ruas jalan alternatif Cianjur-Jakarta, tepatnya di Kampung Cimaok dan Kampung Pinus, Desa Mekargalih, Kec. Cikalong Kulon, Kab. Cianjur, Jawa Barat. Kedua gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi pada lereng di  atas jalan sepanjang 500 meter yang mengakibatkan 1 rumah dan 1 kios tertimbun serta memutus akses jalan akibat tertimbun material longsor. 
Sumber: https://news.okezone.com/read/2018/03/10/525/1870808/dua-tebing-di-jalan-alternatif-cianjur-jakarta-longsor
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal tanpa disertai perkuatan lereng.

6. Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa TimurGerakan tanah terjadi di jalan Desa Bung Beruh, Kec. Kadur, Kab. Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Gerakan tanah berupa longsoran tanah pada sebuah tebing di badan jalan yang mengakibatkan sebagian badan jalan tertutup dan amblas. 
Sumber: https://mediamadura.com/2018/03/10/hujan-berturut-turut-sebabkan-jalan-amblas-dan-longsor-di-pamekasan/Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena curah hujan yang tinggi dan kemiringan lereng yang terjal.

7. Kota Jayapura, Provinsi Papua
Gerakan tanah terjadi di jalan turunan sekolah Kalam Kudus Polimak, Kec. Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua. Gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi pada tebing di atas jalan yang mengakibatkan pohon besar tumbang yang menimpa tiang listrik dan jalan..
(Sumber: https://www.pacificpos.com/item/24149-hujan-deras-dan-longsor-pohon-tumbang-timpa-tiang-listrik)
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena curah hujan yang tinggi dan kemiringan lereng yang terjal.

8. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung Desa Ciberung ke Bagawat, Kec. Selajambe, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing sepanjang 25 meter yang mengakibatkan jalan antardesa tertimbun material longsoran setebal 6 meter. 
(Sumber: http://m.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/10/p5dguo383-tebing-di-kuningan-longsor-akibat-hujan-deras)
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena curah hujan yang tinggi dan kemiringan lereng yang terjal.
*Rekomendasi: 
• Masyarakat yang beraktifitas dan pengguna jalan di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama;
• Masyarakat yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi untuk sementara hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat;
• Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses jalan dapat pulih kembali. Proses pembersihan agar selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap gerakan tanah susulan;
• Masyarakat yang beraktifitas dan pengguna jalan di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama;
• Menutup amblasan jalan dengan material kedap air dan memperkuat lereng bagian bawah jalan agar amblasan tidak bertambah besar;
• Segera membersihkan pohon yang tumbang agar lalu lintas kembali normal dengan tetap waspada terhadap gerakan tanah susulan dan mengutamakan keselamatan;
• Warga yang bertempat tinggal pada rumah yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman;
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan;
• Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing bagian atas;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di gedung sekolah sampai kondisi aman. Kegiatan belajar mengajar dihimbau untuk dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.





Bandung, 11 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini