Isu Gempa Megathrust Jakarta Dan Mitigasinya

Apa itu Megathrust? Akhir-akhir ini masyarakat Jakarta diramaikan dengan pemberitaan mengenai gempa skala besar yang akan menimpa Jakarta dalam waktu dekat. Berawal dari isu lama yang diangkat kembali, menyebabkan kekhawatiran dari penduduk Jakarta apakah benar akan terjadi gempa dan apakah Jakarta masih aman untuk menjadi tempat beraktifitas.
 
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar didampingi oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani dan Kepala Pusat Survei Geologi (PSG) Eko Budi Lelono, menjelaskan perihal Megathrust dan isu mengenai Gempa Jakarta melalui konferensi pers yang diadakan di Kantor Badan Geologi Jl. Diponegoro No 57 Bandung, Kamis (8/03/2018). Menurut Rudy, Gempabumi Megathrust dapat dikategorikan sebagai gempabumi yang berasosiasi dengan aktifitas subduksi pada kedalaman dangkal (0 – 50 km) dan berlokasi dekat dengan palung subduksi (trench). Megathrust berpotensi menghasilkan gempabumi dengan kekuatan yang besar dengan maksimum kekuatan magnitudo hingga 9,5. Jalur megathrust memanjang dari sebelah barat ujung utara Sumatra, ke selatan Jawa hingga di selatan Bali dan Nusa Tenggara yang terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen, salah satunya adalah segmen di selatan Selat Sunda.

gbr1
Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar didampingi Kepala PVMBG Kasbani dalam Konfrensi Pers

Data sejarah menunjukkan terdapat 3 kejadian gempabumi besar yang pernah tercatat mengguncang Jakarta yaitu: 1699, 1780 dan 1834, yang diduga berasal dari sumber gempabumi di sekitar Jakarta. Gempabumi ini menimbulkan kerusakan di wilayah Jakarta sertakota-kota lain di Jawa Barat dan Lampung. Sumber gempabumi berskala besar berpotensi terjadi di sekitar Jakarta, yang dapat berasal dari zona subduksi, intraslab maupun patahan di darat. Namun, sampai saat ini belum ada cara untuk memprediksi kejadian gempabumi (tempat, waktu dan besaran) secara tepat namun potensi besaran dan dampak gempabumi dapat dihitung secara ilmiah.
Wilayah DKI Jakarta tersusun atas endapan Geologi Kuarter (produk gunungapi dan alluvium) yang mempunyai ketebalan maksimum mencapai sekitar 1350 m (Cipta, 2017). Endapan ini merupakan endapan terurai (unconsolidated). Karakteristik endapan Cekungan Kuarter terurai ini sangat penting dalam penilaian potensi bahaya gempabumi sebagai salah satu faktor penguatan gelombang gempabumi (faktor amplifikasi). Hal ini dapat dirasakan dari beberapa kejadian gempabumi dengan magnitude cukup besar pada jarak yang cukup jauh, tetapi dapat dirasakan cukup kuat di Jakarta. Ini menandakan Jakarta cukup rentan terhadap goncangan gempabumi.

gbr3
Diagram Zona Subduksi Segmen Selatan Selat Sunda
   
Upaya Mitigasi Dalam Rangka Pengurangan Risiko Bencana
 
Kondisi Jakarta memiliki kerentanan terhadap goncangan gempabumi dari sumber gempabumi yang berjarak cukup jauh, karena tersusun atas endapan kuarter yang terurai (unconsolidated) dan tebal. Untuk itu perlu adanya pemetaan tapak local (site class) secara detil, untuk mengetahui karakteristik tapak lokal Jakarta terhadap penguatan akibat goncangan gempabumi. Keberadaan jalur patahan aktif yang diperkirakan melewati Jakarta masih belum diketahui secara pasti. Penelitian dan pemetaan secara detil diperlukan untuk mengidentifikasi seberapa aktif patahan tersebut. Karena jika ada patahan aktif di Jakarta, ada potensi terjadi kerusakan di sepanjang jalur patahan tersebut.
 
Jakarta masih dikategorikan relatif aman untuk ditinggali. Masyarakat harus tetap tenang, tidak perlu khawatir berlebihan namun terus tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Seperti kita ketahui, gempabumi tidak membunuh, namun robohnya bangunan yang menyebabkan korban jiwa. Sumber gempa bumi atau bahaya gempa bumi yang berpotensi melanda wilayah Jakarta tidak dapat dihilangkan ataupun dikurangi oleh manusia, upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi dapat dilakukan dan ditingkatkan melalui pengurangan kerentanan (risiko) terhadap gempa bumi dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi gempa bumi.
 
Pengurangan kerentanan terhadap gempa bumi adalah dengan penataan ruang berbasis kebencanaan yang termasuk di dalamnya pembangunan bangunan yang tahan gempabumi. Peningkatan kapasitas dilakukan kepada masyarakat dan stake holder dengan cara sosialisasi yang kontinyu mengenai pengetahuan gempa bumi, langkah-langkah evakuasi dan penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi serta peningkatan kewaspadaan. Dan alangkah baiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kerjasama yang erat antar pemerintah, swasta dan masyarakat harus terus di jalin dan ditingkatkan dalam mengantisipasi kejadian bencana termasuk membuat berbagai skenario untuk kesiapan semua lini ketika terjadi krisis.

gbr2
Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar menjelaskan mengenai jalur Megathrust
   
Nilai utama keberhasilan mitigasi bencana adalah minimalnya kerugian akibat kejadian bencana. Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Perlindungan kepada masyarakat terhadap resiko bencana geologi menjadi salah satu prioritas Pemerintah, khususnya juga tugas di Badan Geologi. Komunikasi yang baik dan kerjasama erat antar lembaga, instansi terkait serta masyarakat akan membuat kita semakin kuat dan siap. Badan Geologi senantiasa melakukan komunikasi dan menjalin kerja sama lebih intensif lagi dengan berbagai intansi baik BMKG, BNPB, LIPI, BPPT, Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Bappenas, Perguruan Tinggi Asosiasi maupun Pemerintah DKI Jakarta. Jakarta harus merangkul kerja bersama yang lebih erat dan serius saat ini dan masa-masa mendatang untuk menangani berbagai permasalahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Badan Geologi, siap setiap saat membantu melakukan mitigasi dan juga akan selalu melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang kebencanaan geologi secara intensif dan kontinyu untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas dalam menghadapi bencana geologi.
 

Tim Humas Badan Geologi

Berita Terkini