Laporan Kebencanaan Geologi 06 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:


Hari ini, Selasa 06 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:


1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati 50-300 m. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 05 Maret 2018 tercatat:- 11 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Guguran- 3 kali Gempa Fase Banyak- 5 kali Gempa Low-frequency- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 51 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah di  kawah puncak teramati 600 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(1 kali terasa)- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 06 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tekanan sedang teramati 400-600 m. Angin ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).- Vulkanik Dalam (VA) 2 kali.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Maret 2018 pukul 09:08 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- 113 kali Gempa Letusan- 100 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik- 2 kali Gempa Tektonik Jauh.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat2. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat3. Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan4. Kabupaten Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan di  Kabupaten Bandung Barat (Provinsi  Jawa Barat); 3 orang meninggal dunia, 4 unit rumah rusak dan 7 unit rumah terancam di  Kabupaten Bandung Barat (Provinsi  Jawa Barat); ribuan orang menungsi dan kurang lebih 18 Km akses jalan terganggu di Kabupaten Kuningan (Provinsi Jawa Barat); jembatan rusak dan akses lalu lintas terputus di  Kabupaten Muara Enim  (Provinsi Sumatera Selatan); akses lalu lintas terganggu di  Kabupaten Aceh Selatan (Provinsi Aceh).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi  sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah puncak putih tebal tekanan sedang teramati 50-300 m. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 05 Maret 2018 tercatat:- 11 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Guguran- 5 kali Gempa Low Frequency- 3 kali Gempa Fase Banyak.- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 51 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah teramati 600 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(1 kali terasa)- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 06 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 1 kali Tremor Harmonik- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih tebal tekanan sedang teramati 400-600 m dari puncak. Angin ke arah selatan dan tenggara. Melalui seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).- Gempa Vulkanik Dalam (VA) 2 kali
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan/letusan putih kelabu tebal  tekanan sedang teramati 300-600 m. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 05 Maret 2018 tercatat:- 113 kali Gempa Letusan- 100 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik- 2 kali Gempa Tektonik Jauh.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Maret 2018 pukul 09:09 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 


Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat*,  2.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat*, 3. Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan* , 4. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh*, 5. Kabupaten Pidie, Provinsi  Aceh,  6.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, 7. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 8. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, 9. Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, 10. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, 11. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 12. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 13. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 14. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 15. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 16. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, 17. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 18.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, 19. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,  20. Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, 21. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 22. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, 23. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 24.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 25.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, 26.Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.


*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi  Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi Kampung Bonjot, RT03/11, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah ini terjadi hari Senin 5 Februari 2018 diperkirakan pada pukul 06:00 WIB. Longsor terjadi akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut sejak minggu malam (4/3/2018) hingga senin pagi. Tipe longsor diperkirakan aliran bahan rombakan. Akibat longsor berdampak pada 4 unit rumah, dan 7 unit rumah terancam. Selain itu 3 orang dilaporkan meninggal yaitu Damah (41), Puja (13) dan Ari (7).
Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/03/05/14003961/korban-tertimbun-longsor-di-kbb-bertambah-jadi-tiga-orang; http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/05/p53tl0366-ibu-dan-anak-tertimbun-longsor-di-bandung-barat
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Jalan penghubung antarkecamatan sepanjang sekitar 18 kilometer di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat tertutup tanah longsor dan tidak bisa dilalui kendaraan. Kurang lebih ada 18 kilometer jalan yang rusak dan itu membuat akses warga terganggu. Jumlah tersebut tersebar di 15 titik dari lima kecamatan di kabupaten ini. Akses jalan yang tertutup dan terputus itu merupakan jalan desa dan jalan utama yang tertimpa longsor. Sementara yang terbawa longsoran itu terdiri dari 42 titik dan 64 titik jalan amblas serta terputus. Kejadian longsor dan pergerakan tanah di lima kecamatan yang berada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat karena adanya intensitas hujan yang tinggi beberapa waktu lalu. Hal ini mengakibatkan ribuan orang harus mengungsi.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/05/p53qjj366-18-kilometer-jalan-di-kuningan-tertutup-tanah-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel), menyebabkan tebing di sekitar Jembatan Sali, Desa Batu Surau, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muaraenim, longsor.
Meski tak menimbulkan korban jiwa, namun dua Kecamatan yakni Semende Darat Tengah dan Semende Darat Ulu terancam terisolir. peristiwa tersebut terjadi saat hujan deras yang mengguyur Kabupaten Muara Enim, Minggu (4/3/2018) malam. Tak kuat menahan intensitas yang tinggi, tanah berikut bebatuan tebing yang berada di atas jembatan Sali akhirnya ambruk dan menutupi jembatan.
Sumber : https://suarakumandang.com/longsor-di-poncol-akses-jalan-menuju-magetan-terganggu/
Penyebab longsor diduga akibat hujan deras yang terjadi secara terus menerus, menimpa tebing dengan kemiringan lereng yang terjal dengan tanah pelapukan yang tebal. 


4. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
Ruas jalan nasional di Kabupaten Aceh Selatan tertimbun longsor di kawasan Gunung Keramil, perbatasan Kecamatan Samadua dengan Tapaktuan, akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu hingga Senin (3-5/3). Longsor terjadi sekitar pukul 04.00 WIB.
Material tanah longsor dari sisi gunung termasuk sejumlah pohon terlihat menutupi sebagian badan jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas di lintasan jalan nasional Tapaktuan-Banda Aceh tersebut.Longsor diperkirakan terjadi akibat lereng yang terjal yang dipicu oleh hujan lebat yang turun dengan durasi yang lama.
Sumber : http://eksposnews.com/nasional/Longsor-di-Aceh-Selatan
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi : 
• Masyarakat yang terdampak langsung bencana agar mengungsi terlebih dahulu ke lokasi yang aman;

• Masyarakat yang tinggal di dekat lokasi bencana agar tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.

• Memasang rambu rambu daerah rawan longsor

• Perbaikan pada akses jalan yang terputus;

• Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air serta membangun gorong gorong.

• Pemakai jalan untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor;

• Membuka kembali jalur yang terputus dengan membersihkan material longsorl

• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulanl

• Membuat dinding penahan tebing yang rawan longsorl

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.




Bandung, 06 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini