Laporan Kebencanaan Geologi 02 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 02 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah teramati berwarna putih kelabu 100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 01 Maret 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Guguran- 7 kali Gempa Low-frequency- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali Gempa Tornilo- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 151 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (terasa).- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari kemarin sampai kini terjadi lahar 2 kali masing-masing tercatat selama 40 menit dan 34 menit. 
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara di  kawah puncak tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Barat. Rekaman seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan- 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(3 kali terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 02 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan/letusan teramati berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke baratlaut. Melalui seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-14 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan teramati berwarna putih kelabu tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- 105 kali Gempa Letusan- 94 kali Gempa Hembusan- 38 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah 5 m. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 01 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah2. Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan3. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat4. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan5. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  satu orang tertimpa material longsor dan meninggal dunia di Kabupaten Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah); akses jalan  terganggu di Kabupaten  Pinrang (Provinsi Sulawesi Selatan) dan di Kabupaten Manggarai Timur (Provinsi Nusa Tenggara Timur); satu rumah tertimbun material tanah di Kabupaten  Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat); Jalan amblas dan lalu lintas terganggu di Kabupaten Ogan Komering Ulu (Provinsi Sumatera Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Barat Daya Padang Sidempuan, Sumatera Utara
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari kamis, 1 Maret 2018, pukul 08:35:48 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempabumi terletak pada koordinat 98,70° BT dan 0,99° LU, dengan magnitudo 5,7 SR pada kedalaman 87 km, berjarak 76 km barat daya Padangsidimpuan.Berdasarkan informasi dari GFZ Postdam, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,72° BT dan 0,90° LU dengan magnitudo 5,1 Mw pada kedalaman 83 km.Gempa bumi kedua!terjadi pada pukul 10:17:06 WIB dengan pusat gempa bumi terletak pada 0.97 LU,98.65 BT, dengan magnituda 5.6 SR dan berjarak 82 km BaratDaya Padang Sidempuan, pada kedalaman 104 km. 

Penyebab gempa bumi:Diperkirakan aktivitas Zona Benioff yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi:Berdasarkan informasi dari pos pengamat Gunungapi Sorik Marapi, gempa bumi ini dirasakan di Pos Kayu Laut, Mandailing Natal, dengan intensitas III MMI hingga menyebabkan masyarakat lari keluar rumah. Sedangkan berdasarkan informasi dari BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Aek Godang III-IV MMI, panyabungan, Sibuhuan, Gunung tua, Sipirok dan Padangsidimpuan merasakan II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah berwarna putih kelabu 100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utars dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 01 Maret 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Guguran- 7 kali Gempa Low-frequency- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali Gempa Tornilo- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 151 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (terasa)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari dua hari lalu sampai hari ini terjadi lahar 2 kali masing-masing tercatat selama 40 menit dan 34 menit.
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Barat. Rekaman seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(3 kali terasa)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 02 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan/letusan teramati berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke baratlaut. Melalui seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- Gempa Letusan 2 kali- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-28 mm (dominan 6 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan teramati berwarna putih kelabu tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 01 Maret 2018 tercatat:- 105 kali Gempa Letusan- 94 kali Gempa Hembusan- 38 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke timur.Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah 5 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 01 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 09:26 WIT, terkait tinggi hembusan asap putih topis tekanan lemah 1923 dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Hembusan condong ke arah barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah*,  2. Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan*, 3. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan*, 5. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur*, 6.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 7.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,. 8.Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, 9. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 10. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur,  11.Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 12. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,  13.  Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 14. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur,  15. Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan,  16.Kabupaten Kota Semarang,  Provinsi Jawa Barat, 17. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 18.Kabupaten Temanggung , Provinsi Jawa Tengah, 19.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di perkebunan warga mengakibatkan satu orang tertimpa material longsor dan meninggal dunia, tanah longsor terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan suara gemuruh sehingga korban tidak dapat menyelamatkan diri. Pencarian korban sempat berhenti karena hujan lebat, namun setelah hujan berhenti korban ditemukan dan langsung dievakuasi 
Sumber:https://www.wonosobozone.com/tertimbun-longsor-saat-bertani/ 
Penyebab gerakan tanah diduga akibat perkebunan di kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan vegetasi yang minim di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2.Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
Bencana tanah longsor yang terjadi di jalan wilayah kampung Ranga-Ranga kelurahan Betteng dimana merupakan akses utama desa mengakibatkan material longsor berupa tanah dan batu berserakan di sepanjang jalan sehingga sulit diakses pengguna jalan. Hujan deras dan angin kencang terjadi sebelum terjadinya tanah longsor.
Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/03/01/ternyata-kampung-ranga-ranga-pinrang-langganan-longsor-pemerintah-mana
Penyebab gerakan tanah diduga akibat tebing yang terjal, curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama dan tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3.Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di jalan desa di Desa Citatah dan Desa Gunung Masigit yang mengakibatkan badan jalan desa tertimbun material longsoran sehingga tidak dapat dilewati. Longsor susulan juga terjadi yang mengakibatkan satu rumah tertimbun material tanah yaitu di kampung Ciames dimana rumah tersebut tidak dapat ditempati kembali.  
Sumber:https://daerah.sindonews.com/read/1286046/21/sejumlah-jalan-desa-di-bandung-barat-masih-tertutup-material-longsor-1519883087
Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang deras, kondisi tebing yang terjal,  tanah pelapukan yang labil di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran tanah bahan rombakan.

4.Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan
Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Talang Air Desa Kurup mengakibatkan jalan cor beton Batu Kuning Baturaja nyaris putus. Jalan cor beton ditutupi lumpur sedalam dua meter dan bagian yang amblas sekitar enam meter dan membuat macet arus lalu lintas kendaraan dari arah Lubuk Batang menuju Baturaja dan sebaliknya. Gorong-gorong jalan tidak mampu menahan deras air hujan dan satu rumah warga amblas terkena longsor serta satu jembatan roboh.
Sumber::  https://www.timlo.net/baca/68719756436/tanah-longsor-sebabkan-jalan-antar-kecamatan-putus/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang deras, kondisi tanah pelapukan yang labil, perhitungan geologi tekhnik yang kurang di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

5.Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gerakan tanah yang terjadi di jalan utama Kecamatan Borong, Kecamatan Poco Ranaka, Kecamatan lamba Leda dan Kecamatan Sambi Rampas menutup akses transportasi dua arah. Material longsoran berupa tanah dan batuan menutupi jalan dan mengakibatkan kendaraan tidak dapat melintas. Hujann deras sering terjadi selama sepekan terakhir.
Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/01/p4wi9c284-bpbd-tanah-longsor-landa-manggarai-timur
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, vegetasi yang kurang, tebing yang terjal dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

.*Rekomendasi :
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan di sekitar daerah perkebunan.
• Masarakat yang beraktivitas di daerah perkebunan agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan hujan yang deras.
• Melaporkan kepada pemerintah setempat dan melakukan pengungsian sementara apabila terjadi retakan tanah dan bunyi gemuruh longsoran.
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat turun hujan karena dapat mengakibatkan terjadinya longsor susulan.
• Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah-kaidah geoteknik.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
• Mengatur drainase air dan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah-kaidah geotek.
• Pemilik rumah yang terkena longsoran agar mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan untuk menghindari gerakan tanah susulan.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaan terutuama terjadi saat hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah kaidah geologi tehnik.
• Melakukan pembangunan kembali terhadap fasilitas layanan umum agar dapat dipergunakan kembali.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
• Segera menutup rekahan dengan tanah liat atau material yang kedap air agar air tidak masuk kedalam rekahan tersebut. 
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
• Penataaan aliran permukaan disekitar lokasi bencana secara menyeluruh.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


Bandung, 02 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini