Laporan Kebencanaan Geologi 01 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 01 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah teramati berwarna putih kelabu 50-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 28 Februari 2018 tercatat:- 6 kali Gempa Guguran- 7 kali Gempa Low-frequency- 5 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali Gempa Tornilo- 8 kali Gempa Vilkanik Dangkal (VB)- 194 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa).
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara di  kawah puncak berwarna putih tipis tekanan lemah teramati 100-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Barat. Rekaman seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 01 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan teramati berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang 800 m di atas puncak condong ke utara. Melalui seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-28 mm (dominan 6 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan teramati berwarna putih kelabu tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 131 kali Gempa Letusan- 103 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah 5-50 m. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 28 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal.- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

1. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
2. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.
3. Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   mengakibatkan akses jalan penghubung terganggu dan dua rumah terancam i Kabupaten Semarang (Provinsi Jawa Tengah); jalan amblas  dan akses lalu lintas terganggu di Kabupaten Purbalingga (Provinsi Jawa Tengah); satu rumah rusak parah, 2 (dua) orang terluka dan 9 keluarga diungsikan. di Kabupaten Batang,(Provinsi Jawa Tengah).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Papua New Guinea
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi utama terjadi pada tanggal 26 Februari 2018, pukul 00:44: 46 WIB skala 7,6 SR dengan lokasi 6.09LS-142.72BT, kedalaman 96 km arah 266 km tenggara Boven Digoel, Papua. Gempa bumi utama ini, sampai tanggal 28 Februari 2018, diikuti oleh sekitar 10 gempa bumi susulan dengan magnituda M >5. 
Dampak Gempabumi:Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan bangunan, sebagian besar pada wilayah Papua Nugini. Belum ada informasi korban jiwa. Gempa bumi utama dirasakan getaran di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Kabupaten Boven Digoel, Tanah Merah, Merauke dan Oksibil. Berdasarkan laporan sementara, bangunan yang rusak antara lain satu masjid, satu pos TNI, gedung SD, kantor distrik, dan sebuah rumah warga di wilayah distrik perbatasan Mindiptanah, Kombut, Arimop di Kabupaten Boven Digoel. 
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berarah  Barat timur. 
Rekomendasi:• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. •  Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah berwarna putih kelabu 50-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 28 Februari 2018 tercatat:- 6 kali Gempa Guguran- 7 kali Gempa Low-frequency- 5 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 3 kali Gempa Tornilo- 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 194 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah berwarna putih tipis tekanan lemah teramati 100-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Barat. Rekaman seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 01 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Hembusan- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan teramati berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang 800 m di atas puncak condong ke utara. Melalui seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-28 mm (dominan 6 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan teramati berwarna putih kelabu tekanan sedang 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 28 Februari 2018 tercatat:- 131 kali Gempa Letusan- 103 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah 5-50 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 28 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 1 kali Gempa Tektonik Jauh.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 09:26 WIT, terkait tinggi hembusan asap putih topis tekanan lemah 1923 dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Hembusan condong ke arah barat.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah*, 2.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*,. 3.Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah*, 4. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 5. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur,  6.Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 7. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,  8.  Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 9. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur,  10. Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan,  11.Kabupaten Kota Semarang,  Provinsi Jawa Barat, 12. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 13.Kabupaten Temanggung , Provinsi Jawa Tengah, 14.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 15.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,  15.Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, 16.Kabupaten Majalengka,  Provinsi Jawa Barat, 17.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 18.Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, 19.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, 20.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, 21.Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh,22.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, 23.Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 24.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, 25.Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 26.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung Kecamatan Ambarawa – Bandungan, tepatnya di Dusun Pluwang RT.21 RW.07 Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Gerakan tanha terjadi pada hari Rabu 28 Februari 2018 sekitar pukul 04.30 WIB. Mengakibatkan tebing setinggi 4 meter dan lebar 50 meter longsor menutupi sebagian badan jalan sehingga akses jalan terganggu. Juga terdapat dua rumah warga yang terancam.
Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1285839/22/tebing-longsor-2-rumah-warga-pluwang-terancam-ambles-1519810180
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi. Selain itu dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.
Gerakan tanah terjadi di Jalan Kabupaten yang menghubungkan antar Desa Jingkang – Danasari tepatnya di depan SD 1 Jingkang dan TK Pertiwi Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 28 Februari 2018 dengan dimensi panjang rekahan 50 meter, tinggi amblesan 1 meter dan lebar rekahan sampai 40 cm. Gerakan tanah mengakibatkan selain akses jalan terganggu juga mengancam pemukiman yang berada dibawahnya. Titik longsor juga terjadi di ruas jalan penghubung Desa Jingkang – Sirau Karangmoncol yang saat ini terputus.
Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2018/02/28/desa-jingkang-purbalingga-kembali-diguncang-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe nendatan.

3.Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamata Bawang yang merupakan bagian dari Kawah Siglagah, Bukit Sipandu. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin 27 Februari 2018 sekitar pukul 18.45 WIB mengakibatkan 2 (dua) orang warga terluka, 1 (satu) rumah rusak berat dan 9 (sembilan) keluarga diungsikan ke tempat yang lebih aman.
Sumber : http://radarpekalongan.co.id/18523/tanah-longsor-timpa-satu-rumah/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
*Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
• Segera menutup rekahan dengan tanah liat atau material yang kedap air agar air tidak masuk kedalam rekahan tersebut;
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
• Penataaan aliran permukaan disekitar lokasi bencana secara menyeluruh;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

Bandung, 01 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini