Laporan Kebencanaan Geologi 31 Januari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 31 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 30 Januari 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 5 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-6 mm (dominan 2 mm).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 30 Januari 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 5 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-6 mm (dominan 2 mm).
Tanggal 31 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 3 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.- Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-700 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur, tenggara. Letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1300 m diatas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur guguran 500-1200 m ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 30 Januari 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- 36 kali Gempa Guguran- 3 kali Gempa Low-Frequency- 2 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 5 kali Gempa Tremor Non Harmonik
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Januari 2018 pukul 08:56 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3760 m di atas permukaan laut atau 1300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-200 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Letusan teramati setinggi 200 m diatas puncak.  Melalui seismograf tanggal 30 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-16 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 4 kali.- Gempa Tektonik Lokal 1 kali- Gempa Tektonik Jauh 1 kali
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 18:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur hingga Utara. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 30 Januari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :1. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah2. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur3.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah4.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah5. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur 6.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat7.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur8.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  jalur kereta terhambat  Kabupaten Banyumas, ( Jawa Tengah); akses wisata terhambat di   Kabupaten Jember ( Provinsi Jawa Timur), lalu lintas terhambat dan 4 rumah rusak di Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah); satu rumah rusak Kabupaten Pekalongan (Provinsi Jawa Tengah); lalu lintas terhambat di  Kabupaten  Manggarai (Provinsi Nusa Tenggara Timur) dan di .Kabupaten Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah)  ; 4 rumah dan jalan rusak serta lalu lintas terhambat di  Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat) ; 2 rumah percontohan rusak di Kota Batu (Malang) ( Provinsi Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 30 Januari 2018 tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 5 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-6 mm (dominan 2 mm).
Tanggal 31 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)- 3 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-700 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur, tenggara. Letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1300 m diatas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur guguran 500-1200 m ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 30 Januari 2018 tercatat:- 2 kali Gempa Letusan- 36 kali Gempa Guguran- 3 kali Gempa Low-Frequency- 2 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 5 kali Gempa Tremor Non Harmonik
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-200 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Letusan teramati setinggi 200 m diatas puncak.  Melalui seismograf tanggal 30 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-16 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 4 kali.- Gempa Tektonik Lokal 1 kali- Gempa Tektonik Jauh 1 kali
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur hingga Utara. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 30 Januari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Januari 2018 pukul 08:56 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3760 m di atas permukaan laut atau 1300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 18:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah*, 2. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur*, 3.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah*, 4.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah*, 5. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur*, 6.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 7.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur*, 8.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah*, 9.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 10.Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 11. Kabupaten  Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 12. Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 13.  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 14.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 15.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, 16. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, 17.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 18.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta, 19.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 20. Kabupaten, Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, 21.Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, 22. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta, 23.  Kabupaten Blitar, Provinsi  Jawa Timur, 24. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 25. Kabupaten  Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 26. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,  27.Kabupaten Badung, Provinsi Bali, 28.Kabupaten Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah, 29.Kabupaten Malang,  Provinsi Jawa Timur, 30.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 31.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 32.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Perjalanan Kereta Api 222 Serayu relasi Purwokerto-Kroya-Kiaracondong-Pasarsenen terganggu akibat material tanah longsor di KM 361+100 antara Stasiun Notog dan Stasiun Kebasen,  Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di  di KM 361+100 Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, terdapat material longsoran berupa batu  pada tanggal 30 Januari 2018  pukul 16.42 WIB. Material longsoran berupa batu itu berasal dari bukit yang sedang dikepras untuk keperluan proyek pembangunan jalur rel ganda Purwokerto-Kroya. Batu itu diduga terlepas dari tanah yang mengikatnya akibat adanya rembesan air hingga akhirnya longsor, sebagian besar material longsoran tersebut tertahan oleh pagar pengaman jalur rel yang dipasang di bawah bukit yang sedang dikepras.   Saat ini petak jalan antara Stasiun Notog dan Stasiun Kebasen telah dapat dilalui kereta api, kecepatan kereta api yang melintas di petak jalan tersebut dibatasi maksimal 5 kilometer per jam.
Sumber: https://www.antaranews.com/berita/681815/perjalanan-ka-serayu-terganggu-longsor
Penyebab gerakan tanah karena adanya pemotongan lereng pada perbaikan  proyek jalur kereta api dan rembesan air yang dipicuh oleh curah hujan sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah

2. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada plengsengan dinding tebing setinggi 35 meter yang merupakan  akses menuju wisata lereng Gunung Argopuro di Rembangan di Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa pada Senin malam (29/1/2018).Gerakan tanah tersebut menggerus hampir separo badan jalan dengan area yang longsor sepanjang 30 meter dengan ketinggian 35 meter. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah jenuh sehingga terjadi pergerakan tanah. Sebelumnya sebelah Selatan lokasi juga mengalami longsor beberapa hari lalu, Akibat peristiwa ini saluran irigasi pertanian rusak dan lahan persawahan warga seluas kurang lebih 5000 m2 tertutup material longsor,
Sumber :https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3840714/bruk-plengsengan-tepi-jalan-longsor-akses-ke-wisata-terganggu
Penyebab gerakan tanah / tanah longsor  diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, adanya retakan di tepi jalan di atas plengsengan, rembesan air pada retakan yang terus menggerus dasar plengsengan yang merupakan tanah yang bersifat porous dan menyerap air, adanya longsoran yang terjadi di dekat plengsengan sebelumnya dan dipicuh curah hujan yang tinggi pada saat dan atau sebelum terjandinya gerakan tanah. Gerakan tanah  berupa longsoran tanah.

3.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
Hujan dg intensitas ringan - sedang yg terjadi pd 29 Januari 2018 mengakibatkan tanah ambles yg berdampak pada rumah warga. Akibat tanah Longsor/ambles 4 unit rumah rusak dan Talud Jalan Sumberejo -- Ronggojai Ambrol Pj 40 m, T -- 7 m, 
Sumber  : http://pusatkrisis.kemkes.go.id/Tanah%20Longsor-di-WONOGIRI-JAWA%20TENGAH-29-01-2018-49
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil

4.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah  longsor kembali terjadi di kecamatan Kandangserang kabupaten Pekalongan, tepatnya pada senin kemarin, (29/1/2018 ), bertempat di dk. Gembong RT. 02 RW. 06  Desa Gembong Kecamatan Kandangserang. Longsor terjadi di tebing belakang rumah milik saudara Yatno sehingga menimpa sebagian bangunan rumah di belakangnya.
Sumber  : https://harianpemalang.com/2018/01/30/longsor-di-kandangserang-terjadi-koramil-kandangserang-terjunkan-babinsa/ 
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil.

5. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur 
Tingginya isntensitas hujan selama sepekan terakhir,menyebabkan ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Cibal dan Cibal Barat, Manggarai, NTT, tertimbun longsor. Longsoran terjadi di Pongtereng Compang Cibal. Akibatnya, arus tranpostasi dari Cibal menuju Cibal Barat ataupun sebaliknya lumpuh. Gerakan tanah / tanah longsor ini terjadi minggu malam (28/1/2018) sekitar pukul 22.00 wita. Hingga Senin (29/1/2018) material longsor belum dibersihkan. Badan jalan yang tertutup longsoran kurang lebih 20 meter dan tinggi tumpukan material longsoran berupa tanah,batu dan pohon-pohon kurang lebih 10 meter. Untuk sementara kendaraan roda 4 maupun roda 2 tidak bisa lewat karena material longsong menutupi penuh badan jalan.
Sumber  : https://www.florespost.co/2018/01/29/hujan-deras-jalan-penghubung-cibal-cibal-barat-tertimbun-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil.

6.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah / tanah longsor pada  laporan tanggal 30   Januari 2018 : 
• Kampung Pasirjambu, RT 8/1, Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Suabumi, mengakibatkan sembilan dari 50 Kepala Keluarga (KK) korban bencana longsor mengungsi. Selain rumahnya sudah tak layak dihuni, hujan yang masih mengguyur juga menjadi ancaman warga. Terlebih, rumah-rumah warga berada di lahan miring dan labil. Yang rusak berat ada empat rumah. Yaitu milik Pak Habib, Suryana, Wawan dan Pak Saepul Alam. • di Kampung Tipar, Desa Gunungtanjung, Kecamatan Cisolok hingga menutup sebagian badan jalan. Ada 250 KK di Kedusunan Tipar itu, tapi jalannya masih bisa dilalui kendaraan roda dua. Cuman harus ekstra hatihati.• di Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan. Akibatnya, jalan yang menghubungkan Kampung Ciangkrek menuju ke SDN Pasirjambu, Desa Mekarasih terhalang dan satu orang luka 
Sumber  : http://jabar.pojoksatu.id/sukabumi/2018/01/30/longsor-sembilan-kk-di-pasirjambu-kabupaten-sukabumi-mengungsi/
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil.

7.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur
Beberapa kali diterjang arus air saat hujan datang, membuat tanah di bantaran sungai di perumahan Dewi Sartika menjadi labil. Akhirnya, pada Selasa (30/1/2018) terjadi  gerakan tanah / tanah longsor di kawasan itu hingga membuat 2 rumah yang ada di atasnya menggantung dan rawan roboh. Satu rumah yang masih dalam proses pembangunan terpaksa dihentikan pengerjaannya. Rumah yang rencananya dibangun 2 lantai itu berada di bantaran sungai yang setiap kali hujan datang debitnya naik hingga 1,5 meter. Pengerjaan dihentikan sejak ada keretakan di plengsengan dan tembok yang ada di rumah contoh. Area terkenan longsor itu dengan dimensi panjang 15 meter dan tinggi 12 meter. Longsoran tanah dan reruntuhan tembok dan beton di lokasi kejadi menimpa bangunan rumah yang ada disebelahnya.  Rumah contoh yang masih dalam proses pembangunan itu di bangun di atas tanah urukan. Akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir mengakibatkan tanah tersebut labil dan akhirnya longsor. Tembok pembatas dan beberapa beton ikut longsor hingga menutupi saluran air sungai yang berpotensi mengambat saluran air sungai,”ujar Rochim.(nas)
Sumber  : http://harianbhirawa.com/2018/01/pembangunan-2-rumah-terhenti-akibat-longsor-di-temas-kota-batu/  
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil.

8.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Warga melihat lokasi jalan antar kecamatan yang longsor di Selomanik, Kaliwiro, Wonosobo, Jawa Tengah, Selasa (30/1). Jalan raya jalur antar kecamatan longsor sepanjang 25 meter dengan kedalaman 50 meter pada Minggu (28/1) lalu yang menyebabkan akses jalan terputus total sehingga semua kendaraan harus memutar sejauh lima kilometer.
Sumber  : http://www.koran-jakarta.com/mengalami-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil
* Rekomendasi 
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan melalui jalan ini lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
• Memperbaiki  saluran drainase untuk memperlancar aliran air permukaan;
• Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;
• Retakan agar segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan;
• Material longsoran yang menutup saluran irigasi agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.• Warga terdampak longsoran dipindahkan ke lokasi yang lebih aman;
• Membuat rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan;
• Melakukan monitoring dan segera melaporkan jika ada potensi longsor;
• Membangun penahan erosi, jika tidak,  agar tidak membangun pemukiman di dekat tebing  / lereng;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas jalan tersebut;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.


Bandung, 31 Januari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani