Laporan Kebencanaan Geologi 05 Januari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 05 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan lemah-sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong ke arah barat, baratdaya, selatan dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 04 Januari 2018 tercatat:- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL) tidak terasa.- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 05 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 7 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya dan selatan.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-250 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya, selatan, dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1000-3000 m diatas puncak, dan 39 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500 m ke arah selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 14:28 WIB, terkait letusan abu selama 211 detik, tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut. Angin ke arah selatan dan tenggara.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 500-600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 04 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).- Gempa letusan 2 kali.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Dari tanggal 02-05 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera dilakukan. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 50-100 m diatas kawah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 04 Januari 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Fase Banyak.- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam.- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal.- 3 kali Gempa Tektonik Lokal.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
2. Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah.
3.Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.
4. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
5. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.
6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.
7. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah 

Penyebab 
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng,  pemukiman di bangun di dekat tebing sungai, erosi sungai, sifat tanah pelapukan yang labil dan mudah terosi , vegetasi yang terus berkurang diperbukitan, tanah timbunan pada fondasi yang tidak kuat, talud yang tidak tertanam pada batuan keras, drainase air tidak berfungsi / tidak ada serta dipicuh oleh  tingginya curah hujan baik sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah..
Dampak  
Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  satu rumah rusak di  Kabupaten  Semarang (Provinsi Jawa Tengah); jalan tidak bisa dilewati mobil di Kabupaten  Pekalongan (Provinsi Jawa Tengah); beberapa rumah terancam longsor di Kabupaten Soppeng ( Provinsi Sulawesi Selatan); 5 rumah dengan 21 jiwa terancam longsor di Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat); empat rumah warga rusak parah dan 42 jiwa terdampak longsor di Kabupaten Luwu (Provinsi Sulawesi Selatan); jalan rusak dan 1 masjid mengalami keretakan di  Kabupaten Purbalingga (Provinsi Jawa Tengah); jalan desa longsor dan puluhan rumah terancam di  Kabupaten Pati (Provinsi Jawa Tengah) 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa  Bumi
 
Gempa Bumi di Perairan Utara Aceh
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 5 Januari 2018, pukul 02:57 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 95,44°BT dan 6,58°LU dengan magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 190 km, berjarak 78 km timulaut Kota Sabang, Aceh. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 95,37°BT dan 6,57°LU, dengan magnitudo M 5.0 pada kedalaman 200 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 95,244° BT dan 7,798°LU, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaman 212,1 km. 
Penyebab gempa bumi:diperkirakan akibat aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan informasi dari BKMG, gempabumi dirasakan di wilayah Aceh Jaya dengan intensitas sebesar II MMI. Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD/BPBA. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu tebal putih hingga kelabu tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong ke arah barat. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 04 Januari 2018 tercatat:- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 17 kali Gempa Hembusan- Nihil Tektonik Lokal (TL).- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 05 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- 7 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lemah dari arah kawah setinggi 50-250 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya, selatan dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visualtercatat 4 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1000-3000 m diatas puncak, dan 39 kali gempa guguran,  jarak luncur guguran 500 m ke arah selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 400-700 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 04 Januari 2018 tercatat:- Gempa Letusan 2 kali.- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).- Tektonik Lokal nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan timur. Sistem rekorder seismograf dari tanggal 02-05 Januari 2018 mengalami kerusakan, perbaikan segera dilakukan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati cerah hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 50-100 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 04 Januari 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Fase Banyak.- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baradaya dan selatan.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 14:28 WIB, terkait letusan abu selama 211 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah selatan dan tenggara.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah*,
2. Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah*,
3. Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan*,
4. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat*,
5. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan*,
6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*,
7. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah*, 
8. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
9. Kabupaten Bantul, Provinsi DI. Yogyakarta,                   
10. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 
11. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,   
12. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 
13. Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, 
14. Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 
15. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 
16. Kabupaten Pidie , Provinsi Aceh,
17. Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, 
18. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
19. Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, 
20. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 
21. Kabupaten Kuningan , Provinsi JawaBarat, 
22. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 
23. Kabupaten Kebumen,  Provinsi Jawa Tengah, 
24. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Terjadi gerakan tanah / tanah longsor di Rt 06 rw 05 , kaligawe , susukan , ungaran timur, kab. Semarang pada hari Rabu, 3 Januari 2018 pukul 20.20 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan rumah milik Bapak sumari (70), Bagian dapur dan 3 kamar tidur terdampak longsoran. Talud yang longsor tersebut menimpa rumah bagian belakang mengenai dinding dari papan. Sedangkan di bagian dapur, tanah sempat masuk hingga dinding jebol. 
Sumber:  http://bpbdjateng.info/aktivitas-/laporan-bencana/53-longsor/7068-tanah-longsor-di-kab-semarang.html? 
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat rumah di bangun dekat tebing talud, pondasi talud yang tidak kuat, dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya  gerakan tanah.

2.Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah
Hujan lebat yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang – Karanganyar terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua titik yaitu di Bantarkulon dan Mendolo. Hujan pada rabu (3/01) sore hingga malam hari menjadi penyebab longsor di wilayah tersebut. Pengguna motor masih dapat melintasi ruas jalan Lebak barang – Karanganyar namun jalan tersebut tidak dapat dilewati mobil. 
Sumber:  https://www.wartadesa.net/longsor-ruas-jalan-lebakbarang-karanganyar-tertutup-batu/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicuh oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

3.Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah / Tanah Longsor terjadi di sekitar sungai Limpomajang, Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan pada Rabu, 3/1/2018. Kejadian longsor diawali dengan meluapnya air di sungai tersebut. Beberapa rumah warga terancam ambruk.  Tanah longsor terjadi di dua lingkungan di Kelurahan Limpomajang yakni di Lajarella dan Limpomajang. Menurut Lurah Limpomajang, longsor di Lajarella panjang sekitar 50 m sedangkan di Limpomajang sepanjang 150 m dengan ketinggian bibir sungai Limpomajang  15 m. 
Sumber: https://katasulsel.com/2018/01/04/longsor-di-soppeng-rumah-warga-terancam-ambruk/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat luapan sungai Limpomajang dan erosi sungai  akibat curah hujan  tinggi sebelum dan saat terjadinya gerkan tanah.

4. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah / tanah longsor  mengancam Sebanyak 5 rumah dengan 21 jiwa terancam longsor, di Kampung Ciloa RT 03/02 Desa Mekarsari Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Lokasi tersebut tak jauh dari kantor pemerintahan setempat. Longsor terjadi pada Rabu (3/1/2018) tengah malam  atau sekitar pukul setengah dua belas malam terjadinya longsor. Tingginya (longsoran) hingga 20 meter dan lebarnya sekitar 30 meter. Lokasi pemukiman yang ada di bagian tebing itu ambrol ke bawah. Sebagian pondasi rumah ada yang terbawa longsoran tanah. Suara longsoran seperti gemuruh sehingga para penghuni kaget dan segera menyelamatkan diri. Tidak ada korban jiwa. Tiga KK langsung mengungsi ke rumah kerabatnya. Dua KK lagi masih bertahan dan tetap waspada.  Longsor terjadi karena curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir ini dan  lokasi pemukiman yang berada di dataran tinggi yang rawan longsor.
Sumber : http://www.inilahkoran.com/berita/bandung/74898/longsor-ancam-5-rumah-di-dekat-kantor-pemda-kbb 
Penyebab gerakan tanh diperkirakan akibat perumahan di bangun dekat tebing, tanah pelapukan yang labil dan mudah tererosi serta dipicuh oleh curah huja tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.
  
5. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah / tanah Longsor yang terjadi di Desa Ilan Batu Uru  Kecamatan Walenrang Barat  Luwu  Sulawesi Selatan  sejak Senin lalu  dan memutuskan jalan penghubung warga Walenrang Barat Kabupaten Luwu ke Toraja Utara . Longsor terjadi di dua titik, sekitar seratus meter  menyebabkan empat rumah warga rusak parah dan 42 jiwa berdampak. Material longsor berupa tanah dan batang kayu  masih memenuhi jalan  dan sebagian material masih berjatuhan dari atas pegunungan. Hingga tanggal 4 Januari 2018,  gerakan tanah masih terus terjadi  karena material longsor dari atas perbukitan masih jatuh dan mengalir, ini sangat berbahaya jika dilakukan pembersihan lumpur. .
Sumber :  https://cyberpare.com/akibat-longsor-jalan-penghubung-luwu-toraja-utara-putus/
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng terjal, vegetasi yang berkurang di bagian atas bukit, batuan dan tanah pelapukan yang labil dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor di  jalan di komplek perumahan Puri Boja, Desa Bojanegara Kecamatan Padamara, ( informasi Rabu (3/1/2018)).. Lokasi longsor saat dipasang garis polisi sebagai peringatan terhadap warga agar tidak mendekati lokasi jalan yang longsor. Hal ini untuk mencegah adanya korban karena masih dimungkinkan terjadi longsor susulan. Tanah  yang longsor sepanjang 8 meter dan lebar 1,5 meter. Longsor meruntuhkan sebagian bahu jalan serta membuat retakan di lantai Masjid yang berdekatan dengan lokasi longsoran. Penyebab terjadinya longsor adalah akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Padamara sore kemarin. Arus air sungai yang deras mengikis tanah di pinggiran jalan hingga terjadi longsor pada tanggal 2 Januari 2018  sekitar pukul 15.30 WIB.
Sumber : https://tribratanews.jateng.polri.go.id/2018/01/03/polsek-padamara-pasang-garis-polisi-di-lokasi-jalan-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah / tanah  longsor diperkirakan akibat jalan di bangun berbatasan dengan tebing sungai, erosi lateral sungai, tanah pelapukan / tanah sedimentasi yang mudah tererosi serta dipicuh oleh curah hujan  yang terjadi sebelum dan atau pada saat terjadi gerakan tanah.  

7. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah 
Gerakan tanah / tanah longsor mengancam  Puluhan rumah di Dukuh Ledok, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Tanggul sungai yang berada tepat di atas permukiman dan jalan desa roboh, akibat terkikis guyuran hujan dan derasnya arus sungai. Sejumlah warga khawatir longsor kembali terjadi, lantaran intensitas hujan yang masih tinggi hingga saat ini. Tanggul setinggi enam meter dengan panjang seratus meter ini mengalami kerusakan parah dan roboh di beberapa bagian. Hujan deras dan terjangan banjir bandang yang terjadi pada Rabu 3 Januari 2018 malam hingga dini hari tadi, membuat tanggul tak kuat hingga akhirnya jebol.   Dengan kondisi intensitas hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari terakhir, potensi longsor susulan bisa saja terjadi. Untuk mengantisipasi semakin melebarnya retakan tanggul dan tanah, warga hanya hanya memasang puluhan karung pasir yang ditata di bawah tanggul.
Sumber  :  http://isknews.com/dukuh-ledok-ditimpa-bencana-longsor/ dan http://www.inews.id/daerah/jateng/tanggul-100-meter-roboh-puluhan-rumah-di-pati-terancam-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat jalan dan perumahan di bangun di dekat tebing sungai, tanggul penahan erosi yang tidak kuat, erosi lateral sungai serta dipicuh curah hujan tinggi sebelum dan pada saat terjadi gerakan tanah  . 
* Rekomendasi : 
• Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama;
• Masyarakat yang bermukim pada rumah yang terancam ambruk agar mengungsi sementara waktu;
• Agar dibangun bangunan penahan erosi sungai;
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
• Tidak membangun di dekat  tebing sungai;
• Menata aliran air permukaan pada lereng;
• Retakan segera ditutup agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut;
• Memelihara vegetasi berakar kuat dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
• Memasang rambu rambu daerah rawan longsor di sepanjang jalan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.


Bandung, 05 Januari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani